Seperti menatap gunung batu yang berlapis salju. Diam. Dan dingin. Begitulah punggung seorang Honey di mata Poison. Sudah sejak pagi saat pelajaran pertama dimulai, Poison hanya bisa menatap punggung anak itu. Tidak sekali pun Honey membalikkan badannya sekedar untuk memastikan ia masih berada di tempatnya.
Hari ini Honey terlihat mengabaikannya. Jangankan menyapanya membuang pandangan ke arahnya pun tidak sama sekali.
Kenapa dengan dia. Pikir Poison. Gua buat salah apa ya.
Poison mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah ia lakukan hari ini. Sebelum bel masuk berbunyi, Poison tidak mendapati Honey di kelas kecuali tas panda birunya yang berada di atas mejanya. Honey pergi entah kemana dan baru muncul ketika bel masuk berbunyi beberapa saat. Dan dari bel masuk hingga sekarang mereka belum berbicara sama sekali. Itu membuat Poison yakin ia tidak membuat kesalahan pada dirinya.
Kalo kayak ginian, bisa kacau rencana gua. Pikir Poison.
Akhirnya pada istirahat kedua Poison nekat menghampiri Honey. Tapi anak itu langsung sigap begitu melihat bayangan Poison. Ia bergerak cepat ke arah pintu. Namun ia tidak bisa mengalahkan langkah panjang Poison. Hanya dengan sekali sigap Poison berhasil meriah tangannya.
"Mo kemana?" tanya Poison sambil mencengkram tangan Honey.
"Apaan sih?" protes Honey sambil berusaha melepaskan diri. Poison membiarkan ia bebas.
"Gua mo ke kantin. Lapar." ujar Honey tanpa memandangnya. Ia membiarkan Honey keluar sambil mengekorinya.
"Lu kenapa sih?" tanya Poison.
"Kenapa apa?" ujar Honey balik bertanya membuat Poison mengurungkan langkahnya. Ia terhenti.
Mungkin gw ga harus tanya dia sekarang. Pikir Poison. Suasana hatinya sedang tidak senang. Entah apa yang membuatnya kesal. Pikir Poison lagi. Ide pergi ke pesta bersama menjadi tidak menarik lagi, justru perubahan sikap Honey yang menimbulkan rasa ingin tahu padanya.
Setelah bel panjang tanda jam sekolah telah usai berbunyi, Poison kembali menghampiri Honey. Tanpa bicara atau pun memandang wajah Honey, ia hanya mengelus sesaat lengan anak itu sebelum ia berlalu pergi. Ia memilih cara itu agar Honey tahu bahwa ia tetap memperhatikannya walau suasana hati anak itu sedang tidak senang.
Kepergian Poison dengan cara demikian membuat Honey merasa bersalah. Anak itu tidak tahu kesalahannya. Tapi Honey juga tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap. Membiarkan Poison dengan segala ketulusannya atau mengatakannya bahwa perhatiannya itu mengganggu Honey.
Sambil berjalan menuju gerbang sekolah, Honey memandang punggung Poison. Langkah anak itu terlihat tidak segagah biasanya. Bahkan tubuh tinggi dan tegap itu terlihat seperti seorang tentara yang kalah perang. Perasaan iba semakin menggerogoti hatinya.
"Ina. Lu yakin Poison tidak bersikap sekedar teman?" tanya Honey saat mereka berada di angkot dalam perjalanan pulang.
"Gua yakin." sahut Ina percaya diri.
Honey merasakan beban yang semakin berat. Ada perasaan tertekan. Tapi perasaan lain yang lebih besar dari perasaan marah atau kesal saat pertama kali mendengar pernyataan Ina tentang perhatian Poison. Mungkin perasaan iba dan bersalah. Apakah ia harus menyesali sikapnya pada Poison hari ini. Tapi semua sudah terjadi. Tidak boleh ada kata menyesal.
"Tapi gua kasian juga melihat Poison hari ini." kata Ina tiba-tiba.
Seperti menampar muka sendiri. Honey jadi benar-benar bersalah.
"Maksud lu?" tanyanya Honey. Suaranya begitu pelan.
"Dia sibuk bolak-balik di meja lu. Memandang punggung lu selama pelajaran. Dan matany tidak pernah lepas dari lu. Kasian sekali dia." ujar Ina.
Honey menjadi gunda gulana.
"Ini semua gara-gara lu sih." Tiba-tiba Honey menjadi kesal.
"Lho - kok gara-gara gua?"
"Iya. Kalo lu ga ngomong apa-apa soal dia kan gua akan kesal." sela Honey.
"Lha gua kan bicara apa adanya. Lu aja yang mo menghindar."
Honey terdiam. Sekarang ia benar-benar kesal bukan pada Ina tapi terhadap dirinya sendiri.
"Gua tuh ga ngerti kenapa sih lu bersikap demikian. Gua pikir lu akan senang bila Poison suka sama lu." ujar Ina.
Honey tidak mempedulikannya. Malah ia memposisikan duduknya ke arah yang berlawanan dari Ina.
"Lu tuh bego, Hon. Cowo secakep Poison lu lewatkan." ujar Ina sambil menjitak kepala Honey tapi hal itu bersamaan dengan rem mendadak angkot. Spontan dahi Honey mendarat di kaca jendela belakang angkot.
"Aduh." Honey meringis kesakitan. Tapi Ina malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Senang lu. Dah yakitin hati gua plus jidat gua." keluh Honey sambil mengelus-elus dahinya.
"Sori, pren." kata Ina disela tawanya.
Tapi Honey tidak benar-benar kesal lagi. Peristiwa tadi malah membuatnya merasa tenang kini.
Pois jelek maafin gua ya. Ujar Honey dalam hati. Ia kemudian ikut-ikutan Ina menertawai dahinya yang kepentok.
