Poison menatap gagang telepon di tangannya. Ia tidak percaya teleponnya ditutup begitu saja oleh Honey.
"Kenapa kamu?" tanya Papa Moritz - ayahnya yang tiba-tiba muncul di ruang keluarga.
"Ga kenapa-kenapa,Pa." sahut Poison lemas.
"Jangan melamun terus." ujar Papa Moritz. " Sudah sore nih. Pel rumah."
"Iya." Poison meletakkan gagang telepon masih dengan tidak bersemangat. Bahkan langkahnya diseret dengan enggan.
Ia sudah berharap bisa ke pesta bersama Honey. Ini mungkin saja akan menjadi kebersamaan pertama mereka di luar dari kegiatan sekolah. Selama ini mereka tidak pernah janjian untuk bertemu. Karena itu Poison merasa ini alasan yang tepat untuk mengajak Honey. Ia berpikir setidaknya harus ada yang memulai atau persahabatan mereka tidak akan berkembang. Poison baru mengenal Honey selama dua bulan saat di kelas sebelas ini. Saat di kelas sepuluh ia hanya mengenalnya sekilas karena mereka tidak sekelas. Honey bukan anak yang populer di sekolah, teman-temannya juga tidak banyak, tapi dari guru, satpam sampai ibu kantin mengenalnya dengan baik. Anak itu sebenarnya cukup ramah pada orang-orang di sekitarnya tapi sikap acuh tak acuhnya yang membuat ia terkesan tertutup, namun sebenarnya kebanyakkan orang mengingatnya karena nama besar ayahnya. Ayahnya adalah seorang pengusaha besar di kota ini. Bisnisnya meliputi peternakan sapi, travel, taksi, restauran dan bank perkreditan. Awalnya Poison tidak menaruh perhatian yang besar pada anak itu tapi sejak mereka sekelas ia melihat banyak hal yang menarik dari manusia super cuek itu. Dan tiba-tiba saja ia merasa tidak boleh menyerah.
Besok gua akan coba lagi di sekolah. Pikirnya bersemangat.
"Melamun aja!" seru Donald - abangnya. Poison sempat tersentak.
"Kamu jadi ga pake motor hari Sabtu?" tanyanya sambil menatap Poison penuh selidikan.
"Jadi dong Kak." sahut Poison cepat. Jangan sampai abangnya berubah pikiran. Ia sudah rela mendeposit uang jajannya sebulan hanya demi meminjam motor abangnya.
"Mau kencan ya?" tanya Dinold lagi.
"Enak aja." protes Poison.
"Emang enak. Belum rasa sih." sahut Dinold. "Buruan. Entar keburu karatan." Katanya sambil tertawa penuh makna.
Poison hanya menggerutu tidak jelas. Ia buru-buru menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Selain menyapu dan mengepel lantai ia masih harus menyiram bunga-bunga kesayangan ibunya dan mencuci mobil ayahnya. Ia membayangkan tangan Honey yang lembut. Pasti anak itu tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sama sekali. Dasar anak manja. Tapi ia tidak merasa anak itu benar-benar manja dan malas, karena di sekolah anak itu tidak pernah mengeluh bila harus bertugas membersihkan kelas. Bahkan ia sangat menikmatinya.
Manusia unik. Ujar Poison dalam hati sambil tersenyum.
"Son!" seru Mama Teci - ibunya. Poison kembali tersentak.
"Jangan melamun kalau nyiram. Airnya jadi kebanyakkan. Sayangkan kalau bunganya mati. Mana belinya mahal lagi. Kamu tau kan kalo Mami ga mau keluarin duit sia-sia. Siram yang bener." ngoceh Mama Teci hanya dalam dua ketukan nada. Poison hanya menatap ibunya dengan tidak senang.
"Maaf. Mami tidak bermaksud mengagetkan kamu." ujar Mama Teci merasa bersalah melihat wajah Poison yang menyedihkan.
"Bukan itu!" teriak Poison.
"Idih. Jangan marah dong, Nak." sela Mama Teci bingung. "Memangnya kamu kesal karena apa?"
"Aku kan dah bilang jangan panggil aku 'Son'. Memangnya aku orang kampung?" protes Poison. Ia kesal setiap ibunya memanggilnya dengan sebutan demikian, karena ia selalu menemukan orang-orang dari kampung yang memiliki panggilan demikian.
"Ya ampun. Mami kira kamu marah karena kaget. 'Son' itu kan dari bahasa Inggris, yang artinya anak laki-laki." jelas Mama Teci.
"Iya. Benar. Tapi pengucapannya bukan lurus-lurus kayak gitu." ujar Poison masih kesal.
"Oh gitu ya. Pantesan Mami ditertawain Mama Nona waktu kursus bahasa Inggris kemarin." sahut Mama Teci sambil tertawa geli.
Ya ampun. Mami gua benar-benar gaul abis. Pikir Poison.


