Matahari sudah condong ke barat saat Honey terbangun dari tidur siangnya. Dengan rasa kantuk yang masih menggantung di mata, Honey menyeret langkahnya menuju teras depan. Di sana ia terduduk melamun. Suasana sore kurang tidak disukainya karena memberi suasana suram. Sore menandakan malam akan segera datang dan siap menggantikan hari ini dengan esok. Padahal setiap hari ia merasa begitu indah. Kecuali hari ini. Ia merasa tertekan memikirkan hari ini dan seterusnya. Bagaimana ia harus bersikap pada Poison. Seperti buku yang terbuka ketika menyadari ucapan Ina benar. Pantas saja terkadang ia merasa sikap yang ditujukan Poison padanya sangat berbeda dari Adi Papa dan Ama. Poison tidak suka bila ia bersikap tengil bila bersama Betty si tomboy di kelasnya. Ia juga suka mondar-mandir layaknya setrika panas bila melihat Honey mengobrol dengan teman cowo dari kelas yang lain. Dan yang mencurigakan ia selalu menyamakan penampilannya dengan Honey. Bukan hanya dari kerapian seragam, tapi ikat pingang, sepatu dan model tas selalu terlihat mirip dengannya.
Huh, keluh Honey dalam hati. Sebaiknya gua menghindar saja darinya.
Rasa tekad yang mungkin bisa saja bisa mendatangkan penyesalan membuat ia beranjak kembali ke kamarnya.
Untuk melepas sore, Honey mulai melakukan ritualnya. Ia memasukkan CD ke player dan dengan sekali pencet remote, suara musik menghentak mulai melingkupi ruang kamar tidurnya. Dan seperti keserupan hantu rocker pecicilan anak itu mulai berjingkrak-jingkrak tidak karuan.
"Woi! Kecilin musiknya! Lu mau rumah kita dilempar orang." Tiba-tiba Mamanya muncul. Suara cemprengnya ternyata mampu mengalahkan suara musik dan membuyarkan semangat Honey.
"Aduh,Ma. Jangan teriak-teriak dong." ujar Honey setelah mengecilkan suara musik.
"Yang ada tuh, rumah kita dilempar orang karena suara cempreng Mama." katanya sambil tertawa meledek Mama Lince.
"Anak kurang ajar." sahut Mama Lince sambil melotot.
"Cepetan terima telepon dari temanmu." katanya sambil berbalik pergi tanpa memberi kesempatan pada Honey bertanya tentang penelponnya.
"Halo?" ujar Honey saat ia telah meraih gagang telepon.
"Hai,Hon. Ini aku Pois." Suara Poison terdengar di ujung sana.
"Ya?" sahut Honey dengan enggan. Ia baru berencana akan menjaga jarak tapi anak itu sudah muncul di telepon.
"Ke pesta ga?" tanyanya.
Honey teringat hari Sabtu nanti akan ada pesta ulang tahun Peggy.
Ia terdiam menimbang. Hari Sabtu adalah hari kemerdekaannya, selain jalan-jalan dan nongkrong sama teman-teman, ia tidak punya rencana khusus lainnya. Dan ia merasa tergoda untuk menghadiri pesta teman sekolahnya itu. Setidaknya ia akan menambah teman bila ia menghadiri pesta itu nanti. Tapi ia tidak mau pergi ke pesta itu dengan Poison.
"Sori. Gua udah punya acara." katanya berbohong.
"Acara apaan?" tanya Poison.
"Yah, acaralah." sahut Honey malas. Emang perlu gua jelasin ke elu? Pikir Honey kesal.
"Acara apaan sih?" tuntut Poison.
"Acara syukuran.." sela Honey sengaja mengantung kalimatnya.
"Syukuran apa?" kejar Poison.
"Nenek gua ganti kulit."
Kilk! Honey langsung menutup telepon. Lantas ia tertawa geli.
"Eh - ketawa sendirian!" ujar Fence sang kakak saat berjalan melewatinya. Tapi Honey tidak peduli ia tetap saja tertawa. Membayangkan kekesalan Poison karena dikerjain.
"Berhenti ketawa!" suara cempreng Mamanya kembali bergema. Kali ini terdengar dari dapur. Honey hanya berhenti sejenak. Tapi kemudian ia tertawa denga suara kecil.
"Jangan berhenti ya!" suara Mamanya terdengar mengancam.
Gila! Mama gua kayak dewa aja. Tau kalo gua masih ketawa juga. Pikir Honey. Ia berhenti tertawa dan hanya terduduk di dekat telepon. Melamun.
"Lu duduk terus di sana. Tidak usah mandi." suara Mamanya kembali bergeming. Seperti suara nyamuk di kuping. Mengganggu sekali.
Mama gua kok bisa tau apa yang gua buat. Pikir Honey. Sambil beranjak ia mengamati seluruh sudut ruangan. Jangan-jangan di rumahnya ada kamera CCTV.

No comments:
Post a Comment