Sunday, 12 June 2011

Honey and Poison (4)


Seperti menatap gunung batu yang berlapis salju. Diam. Dan dingin. Begitulah punggung seorang Honey di mata Poison. Sudah sejak pagi saat pelajaran pertama dimulai, Poison hanya bisa menatap punggung anak itu. Tidak sekali pun Honey membalikkan badannya sekedar untuk memastikan ia masih berada di tempatnya.
Hari ini Honey terlihat mengabaikannya. Jangankan menyapanya membuang pandangan ke arahnya pun tidak sama sekali.

Kenapa dengan dia. Pikir Poison. Gua buat salah apa ya.

Poison mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah ia lakukan hari ini. Sebelum bel masuk berbunyi, Poison tidak mendapati Honey di kelas kecuali tas panda birunya yang berada di atas mejanya. Honey pergi entah kemana dan baru muncul ketika bel masuk berbunyi beberapa saat. Dan dari bel masuk hingga sekarang mereka belum berbicara sama sekali. Itu membuat Poison yakin ia tidak membuat kesalahan pada dirinya.

Kalo kayak ginian, bisa kacau rencana gua. Pikir Poison.

Akhirnya pada istirahat kedua Poison nekat menghampiri Honey. Tapi anak itu langsung sigap begitu melihat bayangan Poison. Ia bergerak cepat ke arah pintu. Namun ia tidak bisa mengalahkan langkah panjang Poison. Hanya dengan sekali sigap Poison berhasil meriah tangannya.

"Mo kemana?" tanya Poison sambil mencengkram tangan Honey.

"Apaan sih?" protes Honey sambil berusaha melepaskan diri. Poison membiarkan ia bebas.

"Gua mo ke kantin. Lapar." ujar Honey tanpa memandangnya. Ia membiarkan Honey keluar sambil mengekorinya.

"Lu kenapa sih?" tanya Poison.

"Kenapa apa?" ujar Honey balik bertanya membuat Poison mengurungkan langkahnya. Ia terhenti.

Mungkin gw ga harus tanya dia sekarang. Pikir Poison. Suasana hatinya sedang tidak senang. Entah apa yang membuatnya kesal. Pikir Poison lagi. Ide pergi ke pesta bersama menjadi tidak menarik lagi, justru perubahan sikap Honey yang menimbulkan rasa ingin tahu padanya.

Setelah bel panjang tanda jam sekolah telah usai berbunyi, Poison kembali menghampiri Honey. Tanpa bicara atau pun memandang wajah Honey, ia hanya mengelus sesaat lengan anak itu sebelum ia berlalu pergi. Ia memilih cara itu agar Honey tahu bahwa ia tetap memperhatikannya walau suasana hati anak itu sedang tidak senang.

Kepergian Poison dengan cara demikian membuat Honey merasa bersalah. Anak itu tidak tahu kesalahannya. Tapi Honey juga tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap. Membiarkan Poison dengan segala ketulusannya atau mengatakannya bahwa perhatiannya itu mengganggu Honey.

Sambil berjalan menuju gerbang sekolah, Honey memandang punggung Poison. Langkah anak itu terlihat tidak segagah biasanya. Bahkan tubuh tinggi dan tegap itu terlihat seperti seorang tentara yang kalah perang. Perasaan iba semakin menggerogoti hatinya.

"Ina. Lu yakin Poison tidak bersikap sekedar teman?" tanya Honey saat mereka berada di angkot dalam perjalanan pulang.

"Gua yakin." sahut Ina percaya diri.

Honey merasakan beban yang semakin berat. Ada perasaan tertekan. Tapi perasaan lain yang lebih besar dari perasaan marah atau kesal saat pertama kali mendengar pernyataan Ina tentang perhatian Poison. Mungkin perasaan iba dan bersalah. Apakah ia harus menyesali sikapnya pada Poison hari ini. Tapi semua sudah terjadi. Tidak boleh ada kata menyesal.

"Tapi gua kasian juga melihat Poison hari ini." kata Ina tiba-tiba.

Seperti menampar muka sendiri. Honey jadi benar-benar bersalah.

"Maksud lu?" tanyanya Honey. Suaranya begitu pelan.

"Dia sibuk bolak-balik di meja lu. Memandang punggung lu selama pelajaran. Dan matany tidak pernah lepas dari lu. Kasian sekali dia." ujar Ina.

Honey menjadi gunda gulana.

"Ini semua gara-gara lu sih." Tiba-tiba Honey menjadi kesal.

"Lho - kok gara-gara gua?"

"Iya. Kalo lu ga ngomong apa-apa soal dia kan gua akan kesal." sela Honey.

"Lha gua kan bicara apa adanya. Lu aja yang mo menghindar."

Honey terdiam. Sekarang ia benar-benar kesal bukan pada Ina tapi terhadap dirinya sendiri.

"Gua tuh ga ngerti kenapa sih lu bersikap demikian. Gua pikir lu akan senang bila Poison suka sama lu." ujar Ina.

Honey tidak mempedulikannya. Malah ia memposisikan duduknya ke arah yang berlawanan dari Ina.

"Lu tuh bego, Hon. Cowo secakep Poison lu lewatkan." ujar Ina sambil menjitak kepala Honey tapi hal itu bersamaan dengan rem mendadak angkot. Spontan dahi Honey mendarat di kaca jendela belakang angkot.

"Aduh." Honey meringis kesakitan. Tapi Ina malah tertawa terpingkal-pingkal.

"Senang lu. Dah yakitin hati gua plus jidat gua." keluh Honey sambil mengelus-elus dahinya.

"Sori, pren." kata Ina disela tawanya.

Tapi Honey tidak benar-benar kesal lagi. Peristiwa tadi malah membuatnya merasa tenang kini.

Pois jelek maafin gua ya. Ujar Honey dalam hati. Ia kemudian ikut-ikutan Ina menertawai dahinya yang kepentok.

Sunday, 10 April 2011

Honey and Poison (3)

Poison menatap gagang telepon di tangannya. Ia tidak percaya teleponnya ditutup begitu saja oleh Honey.

"Kenapa kamu?" tanya Papa Moritz - ayahnya yang tiba-tiba muncul di ruang keluarga.

"Ga kenapa-kenapa,Pa." sahut Poison lemas.

"Jangan melamun terus." ujar Papa Moritz. " Sudah sore nih. Pel rumah."

"Iya." Poison meletakkan gagang telepon masih dengan tidak bersemangat. Bahkan langkahnya diseret dengan enggan.

Ia sudah berharap bisa ke pesta bersama Honey. Ini mungkin saja akan menjadi kebersamaan pertama mereka di luar dari kegiatan sekolah. Selama ini mereka tidak pernah janjian untuk bertemu. Karena itu Poison merasa ini alasan yang tepat untuk mengajak Honey. Ia berpikir setidaknya harus ada yang memulai atau persahabatan mereka tidak akan berkembang. Poison baru mengenal Honey selama dua bulan saat di kelas sebelas ini. Saat di kelas sepuluh ia hanya mengenalnya sekilas karena mereka tidak sekelas. Honey bukan anak yang populer di sekolah, teman-temannya juga tidak banyak, tapi dari guru, satpam sampai ibu kantin mengenalnya dengan baik. Anak itu sebenarnya cukup ramah pada orang-orang di sekitarnya tapi sikap acuh tak acuhnya yang membuat ia terkesan tertutup, namun sebenarnya kebanyakkan orang mengingatnya karena nama besar ayahnya. Ayahnya adalah seorang pengusaha besar di kota ini. Bisnisnya meliputi peternakan sapi, travel, taksi, restauran dan bank perkreditan. Awalnya Poison tidak menaruh perhatian yang besar pada anak itu tapi sejak mereka sekelas ia melihat banyak hal yang menarik dari manusia super cuek itu. Dan tiba-tiba saja ia merasa tidak boleh menyerah.

Besok gua akan coba lagi di sekolah. Pikirnya bersemangat.

"Melamun aja!" seru Donald - abangnya. Poison sempat tersentak.

"Kamu jadi ga pake motor hari Sabtu?" tanyanya sambil menatap Poison penuh selidikan.

"Jadi dong Kak." sahut Poison cepat. Jangan sampai abangnya berubah pikiran. Ia sudah rela mendeposit uang jajannya sebulan hanya demi meminjam motor abangnya.

"Mau kencan ya?" tanya Dinold lagi.

"Enak aja." protes Poison.

"Emang enak. Belum rasa sih." sahut Dinold. "Buruan. Entar keburu karatan." Katanya sambil tertawa penuh makna.

Poison hanya menggerutu tidak jelas. Ia buru-buru menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Selain menyapu dan mengepel lantai ia masih harus menyiram bunga-bunga kesayangan ibunya dan mencuci mobil ayahnya. Ia membayangkan tangan Honey yang lembut. Pasti anak itu tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sama sekali. Dasar anak manja. Tapi ia tidak merasa anak itu benar-benar manja dan malas, karena di sekolah anak itu tidak pernah mengeluh bila harus bertugas membersihkan kelas. Bahkan ia sangat menikmatinya.

Manusia unik. Ujar Poison dalam hati sambil tersenyum.

"Son!" seru Mama Teci - ibunya. Poison kembali tersentak.

"Jangan melamun kalau nyiram. Airnya jadi kebanyakkan. Sayangkan kalau bunganya mati. Mana belinya mahal lagi. Kamu tau kan kalo Mami ga mau keluarin duit sia-sia. Siram yang bener." ngoceh Mama Teci hanya dalam dua ketukan nada. Poison hanya menatap ibunya dengan tidak senang.

"Maaf. Mami tidak bermaksud mengagetkan kamu." ujar Mama Teci merasa bersalah melihat wajah Poison yang menyedihkan.

"Bukan itu!" teriak Poison.

"Idih. Jangan marah dong, Nak." sela Mama Teci bingung. "Memangnya kamu kesal karena apa?"

"Aku kan dah bilang jangan panggil aku 'Son'. Memangnya aku orang kampung?" protes Poison. Ia kesal setiap ibunya memanggilnya dengan sebutan demikian, karena ia selalu menemukan orang-orang dari kampung yang memiliki panggilan demikian.

"Ya ampun. Mami kira kamu marah karena kaget. 'Son' itu kan dari bahasa Inggris, yang artinya anak laki-laki." jelas Mama Teci.

"Iya. Benar. Tapi pengucapannya bukan lurus-lurus kayak gitu." ujar Poison masih kesal.

"Oh gitu ya. Pantesan Mami ditertawain Mama Nona waktu kursus bahasa Inggris kemarin." sahut Mama Teci sambil tertawa geli.

Ya ampun. Mami gua benar-benar gaul abis. Pikir Poison.

Saturday, 9 April 2011

Honey and Poison (2)

Matahari sudah condong ke barat saat Honey terbangun dari tidur siangnya. Dengan rasa kantuk yang masih menggantung di mata, Honey menyeret langkahnya menuju teras depan. Di sana ia terduduk melamun. Suasana sore kurang tidak disukainya karena memberi suasana suram. Sore menandakan malam akan segera datang dan siap menggantikan hari ini dengan esok. Padahal setiap hari ia merasa begitu indah. Kecuali hari ini. Ia merasa tertekan memikirkan hari ini dan seterusnya. Bagaimana ia harus bersikap pada Poison. Seperti buku yang terbuka ketika menyadari ucapan Ina benar. Pantas saja terkadang ia merasa sikap yang ditujukan Poison padanya sangat berbeda dari Adi Papa dan Ama. Poison tidak suka bila ia bersikap tengil bila bersama Betty si tomboy di kelasnya. Ia juga suka mondar-mandir layaknya setrika panas bila melihat Honey mengobrol dengan teman cowo dari kelas yang lain. Dan yang mencurigakan ia selalu menyamakan penampilannya dengan Honey. Bukan hanya dari kerapian seragam, tapi ikat pingang, sepatu dan model tas selalu terlihat mirip dengannya.

Huh, keluh Honey dalam hati. Sebaiknya gua menghindar saja darinya.

Rasa tekad yang mungkin bisa saja bisa mendatangkan penyesalan membuat ia beranjak kembali ke kamarnya.

Untuk melepas sore, Honey mulai melakukan ritualnya. Ia memasukkan CD ke player dan dengan sekali pencet remote, suara musik menghentak mulai melingkupi ruang kamar tidurnya. Dan seperti keserupan hantu rocker pecicilan anak itu mulai berjingkrak-jingkrak tidak karuan.

"Woi! Kecilin musiknya! Lu mau rumah kita dilempar orang." Tiba-tiba Mamanya muncul. Suara cemprengnya ternyata mampu mengalahkan suara musik dan membuyarkan semangat Honey.

"Aduh,Ma. Jangan teriak-teriak dong." ujar Honey setelah mengecilkan suara musik.

"Yang ada tuh, rumah kita dilempar orang karena suara cempreng Mama." katanya sambil tertawa meledek Mama Lince.

"Anak kurang ajar." sahut Mama Lince sambil melotot.

"Cepetan terima telepon dari temanmu." katanya sambil berbalik pergi tanpa memberi kesempatan pada Honey bertanya tentang penelponnya.

"Halo?" ujar Honey saat ia telah meraih gagang telepon.

"Hai,Hon. Ini aku Pois." Suara Poison terdengar di ujung sana.

"Ya?" sahut Honey dengan enggan. Ia baru berencana akan menjaga jarak tapi anak itu sudah muncul di telepon.

"Ke pesta ga?" tanyanya.

Honey teringat hari Sabtu nanti akan ada pesta ulang tahun Peggy.
Ia terdiam menimbang. Hari Sabtu adalah hari kemerdekaannya, selain jalan-jalan dan nongkrong sama teman-teman, ia tidak punya rencana khusus lainnya. Dan ia merasa tergoda untuk menghadiri pesta teman sekolahnya itu. Setidaknya ia akan menambah teman bila ia menghadiri pesta itu nanti. Tapi ia tidak mau pergi ke pesta itu dengan Poison.

"Sori. Gua udah punya acara." katanya berbohong.

"Acara apaan?" tanya Poison.

"Yah, acaralah." sahut Honey malas. Emang perlu gua jelasin ke elu? Pikir Honey kesal.

"Acara apaan sih?" tuntut Poison.

"Acara syukuran.." sela Honey sengaja mengantung kalimatnya.

"Syukuran apa?" kejar Poison.

"Nenek gua ganti kulit."

Kilk! Honey langsung menutup telepon. Lantas ia tertawa geli.

"Eh - ketawa sendirian!" ujar Fence sang kakak saat berjalan melewatinya. Tapi Honey tidak peduli ia tetap saja tertawa. Membayangkan kekesalan Poison karena dikerjain.

"Berhenti ketawa!" suara cempreng Mamanya kembali bergema. Kali ini terdengar dari dapur. Honey hanya berhenti sejenak. Tapi kemudian ia tertawa denga suara kecil.

"Jangan berhenti ya!" suara Mamanya terdengar mengancam.

Gila! Mama gua kayak dewa aja. Tau kalo gua masih ketawa juga. Pikir Honey. Ia berhenti tertawa dan hanya terduduk di dekat telepon. Melamun.

"Lu duduk terus di sana. Tidak usah mandi." suara Mamanya kembali bergeming. Seperti suara nyamuk di kuping. Mengganggu sekali.

Mama gua kok bisa tau apa yang gua buat. Pikir Honey. Sambil beranjak ia mengamati seluruh sudut ruangan. Jangan-jangan di rumahnya ada kamera CCTV.

Honey and Poison (1)

Pagi datang dengan gembira. Ditandai dengan langit cerah. Waktu sudah menunjukkan jam 06.00. Setelah memberi salam kedua orang tuanya, Honey berjalan keluar rumah dengan langkah gagah. Remaja berusia tujuh belas tahun itu menenteng tas punggung biru berbentuk boneka panda.
"Honey!" panggil Ina. Tetangga sekaligus teman sekolahnya. Gadis berwajah imut-imut dan manis itu mengejar langkah Honey.
"Tumben hari ini lu berangkat pagi." katanya.
"Maksud lu?" tanya Honey sambil melotot.
"Lu kan selalu kesiangan." ledek Ina acuh.
"Idih! Bisanya cuma melihat kejelekkan orang." protes Honey sambil mencibir. Tapi kemudian ia tertawa.

Lalu sepanjang perjalanan dengan angkot ke sekolah keduanya asik berbincang dari masalah sekolah sampai pada masalah gebetan. Tapi dibanding Honey, Ina lebih jelas gebetannya.
"Iya. Tau yang dah mo jadian?" keluh Honey.
"Makanya lu buruan cari dong. Anak SD aja dah pada koleksi. Masa lu kalah ama anak SD." ujar Ina sambil tertawa. Wajah Honey seperti tersengat lebah. Meringis. Sebel bercampur depresi.
"Eh - kalo gua mentingin sekolah. Bukan kayak lu pacaran melulu. Tuh rapor dah kayak kebakaran hutan." sanggah Honey. Giliran Ina yang mencibirnya. Tapi keduanya kembali tertawa berbarengan.
"Gimana dengan Poison?" tiba-tiba Ina bertanya.
"Poison? Kenapa dengan dia?" Honey balik bertanya.
"Bukannya kalian dekat." sahutnya.
"Eit - kami cuma teman biasa." sanggah Honey.
"Oya? Tapi gua merasa Poison tidak menganggapmu cuma teman biasa." sahutnya.
Honey terperangah. "Maksud lu?"
"Menurut gua, Poison itu suka sama lu." ujarnya Ina dengan wajah serius.
"Jangan ngaco lu! Dia itu cuma menganggap gua teman." tukas Honey. Ia tidak percaya pada ucapan Ina. Selama ini Poison adalah salah satu teman cowo di kelas yang cukup dekat dengannya.
Tapi itu tidak bisa mengubah sikap Ina. Anak itu kembali mencoba meyakinkan Honey. "Perhatikan cara dia memperlakukan lu, Hon." katanya." Terhadap lu, dia sangat perhatian dan peduli. Dia suka memujimu, mencari-cari perhatianmu, salah tingkah di depanmu dan bahkan sering memegang tanganmu."
"Masa sih?" ujar Honey. Ia terlihat bingung. Sedikit percaya tapi sedikit tidak percaya pula.
"Iya. Lu mungkin ga nyadar. Tapi gua pengamat yang sangat baik."
"Gak mungkin." bisik Honey. Seolah-olah ia bicara sendiri.
"Kalo lu ga percaya. Coba aja lu perhatikan sikap dia ke lu hari ini." tandas Ina.
Honey menatapnya dengan tidak percaya tapi anak itu balas menatap dengan penuh keyakinan.
Tiba-tiba perutnya terasa keram. Ada sesuatu yang menekan dirinya. Rasa tidak suka bila ternyata Ina benar. Ini berarti persahabatan Poison tidak tulus. Makhluk jelek itu akan gua pangkas kalau hari ini dia berani dekat-dekat dengan gua. Pikir Honey marah.

Dua puluh menit kemudian mereka tiba di sekolah.
"Eh - lu kok datang pagi sih?" sambut Bento dengan wajah tidak bahagia. Ia berharap kali ini ada kesempatan buat bolos lagi bila Honey terlambat. Karena sebagai ketua kelas ia bertugas membawa kunci kelas. Kalau ia terlambat, tentu saja teman-temannya terpaksa harus menunggu di luar dulu. Kesempatan inilah yang digunakan beberapa temannya untuk bolos pelajaran pertama.
"Lu sumpahin gua dimarahin wali kelas." sahut Honey. Dengan cepat ia membuka pintu kelas.
Saat ia menaruh tas di meja paling depan, Poison berjalan melewatinya. Anak itu memasang senyum paling manis. Lupa dengan kekesalannya, Honey balas tersenyum. Tapi kemudian ia teringat kata-kata Ina. Lalu ia memperhatikan apakah Poison juga tersenyum pada yang lain. Ternyata pada yang lain ia bersikap dingin. Tentu saja ia akan tersenyum pada Honey bukankah mereka teman dekat.
"Cie..cie..Yang saling melempar senyum." bisik Ina.
"Apaan sih? Kurang kerjaan? Tuh sapu lantai. Hari ini kan lu piket." sahut Honey. Ia bergegas keluar. Ia tidak ingin Ina melihatnya tersipu-sipu. Tapi tentu saja mata Ina sudah terlatih untuk mendeteksi setiap gerakannya yang terkecil sekalipun.
"Meong!!" serunya sebelum Honey menghilang di balik pintu.

Sementara di luar, Honey duduk-duduk dibawa pendopo di depan kelas. Masih ada setengah jam lebih sebelum masuk. Tak lama kemudian Poison keluar dari kelas. Mata mereka beradu. Jantung Honey serasa akan meloncat keluar.
"Tumben kamu tidak terlambat." sapa Poison sambil duduk di sebelahnya. Perutnya tiba-tiba merasa keram. Idih! Tiap hari ketemu dengannya, kenapa hari ini gua gugup? Pikir Honey.
"Lu pengen gua telat tiap hari?" ujar Honey setelah bisa menguasai diri.
" Ga juga sih. Tapi hari ini aku pengen bolos." ujarnya. "Kamu mau ikut ga?"
" Gua ga pernah bolos." sahut Honey.
" Kalo gitu kita bolos hari ini." katanya sambil meraih tangan Honey.
" Kamu mau apa sih?" kata Honey sambil menarik tangannya. Tapi tidak berhasil.
" Ayo." Poison menariknya dengan kuat. Karena kalah kekuatan Honey menurut saja. Ia mengikuti langkah Poison yang panjang dengan tergopoh-gopoh.
" Hei, kalian mau kemana?" Ina tiba-tiba keluar kelas dan mendapati mereka sedang berjalan melewati koridor kelas.
Melihat ekspresi menggoda Ina, Honey langsung menghentak tangan Poison. Sekali hentakkan tangan itu terlepas. " Gua ga mau bolos!" kata Honey kemudian langsung berbalik kembali ke kelas. Poison hanya terpaku. Ia berdiri menatap punggung Honey yang setengah berlari meninggalkannya.