Southern, 14 Juli 1999
Sudah dua hari terakhir, aku menghabiskan waktuku dengan Barry. Kami berbagi cerita yang selalu diwarnai canda dan tawa. Barry orangnya sangat humoris dan cool banget. Ia mirip banget dengan Genggi. Ah, aku jadi teringat pada ketiga sahabatku: Genggi, Pip dan Kaka. Uh! Mereka akan kesal jika mengetahui aku sekarang mendapatkan teman baru. Biarin saja, siapa suruh pergi mancing tidak mengajakku. Aku ingat betul kata-kata ketiga vampir itu.
"Van, sadar dong. Kamu tuh cewe. Mana mungkin kamu betah duduk berlama-lama di tengah lautan. Kebayang ga kalau kamu yang dah itam harus terpanggang matahari di tengah lautan akan jadi apa nantinya?""Kayak sate hangus diberi kecap... Hahaha..."Ketiganya tertawa mengejekku.Padahal aku sudah mencari muka dengan ketiga cecurut itu. Aku menurut saja ketika diminta bantuan. Tapi hasil akhirnya, tetap saja aku tidak diperbolehkan ikut. Mereka ternyata hanya memanfaatin tenagaku saja. Ini yang membuatku kesal dan menyatakan perang dingin dengan ketiga makhluk aneh itu. Masih teringat bagaimana aku berusaha memenangkan hati mereka demi mendapatkan ijin mereka untuk ikut memancing. "Kaka, aku bantu kamu ngerjain pe-er Fisikamu ya? Bila perlu, kamu nyalin aja punyaku. Aku sudah selesai koq," bujukku saat aku bertandang ke rumahnya. Kaka pura-pura tidak mendengarkanku. Ia sibuk mencoret-coret buku gambar di depannya."Kaka!" seruku kesal. Ku tarik saja buku gambarnya."Masa cuma per-er Fisika, Van," Pemerasan dimulai. "Sekalian aja pe-er Bahasa Inggris dan tugas mengarang. Gimana?""Enak aja. Apa aku budakmu?" sahutku sewot. Gimana tidak, dikasi hati minta jantung. HEH!"Ya, sudah. Terserah. Paling-paling kamu ga bisa ikut mancing dengan kita." Kaka mulai mengancam."Kalao cuma Fisika dan English, aku sih tidak keberatan. Tapi kalau lebih... Ogah!" AKu putuskan bila Kaka tidak setuju maka aku tidak akn membantunya sama sekali."Baiklah."Dengan semangat kemudian kubawakan buku pe-erku untuk Kaka.Berbeda dengan Kaka yang membenci pe-er, untuk mencari muka dengan Pip, aku harus rela seharian menjadi ABENG - anak bengkel. Seharian aku membantunya membongkar-bangkir motor racingnya. Pakaianku kotor karena oli, badanku keringatan karena kepanasan terkukung di dalam garasi, dan wajahku menjadi kusam. Aku benar-benar dekil saat itu."Van, ambilin obeng nomor lima belas. Eh, sekalian sabun cap tangannya," perintah my BOSBENG - bos bengkel."Van, kamu kikis pelan-pelan sabunnya, terus campurin dengan bensin. Tapi sedikit aja bensinnya. Ingat, dikit aja!" jelas Pip. "Setelah itu kamu oles di body mesin. Biar mengkilat. Silau man!""Aduh, Pip. Kapan selesainya nih? Aku sudah gerah nih. Pengen mandi." Aku merasa tubuhku sudah menyatu dengan T-Shirt DAGADU - dasar gadis dungu."Eh - Van, baru segini aja kamu sudah mengeluh. Gimana mancing nanti?" kilah Pip. Ia membuatku tidak punya pilihan. Dan aku pun mengerjakan semua instruksi yang sudah ia jelaskan. Sedih!
Jika Kaka dan Pip memerasku dengan tenaga, berbeda dengan Genggi. Cowo yang diam-diam mendapat tempat spesial di hatiku itu malah memerasku lewat perasaan. Duh, lebih baik sakit badan dari pada sakit hati... "Van, kamu mau tidak ikut kita pergi mancing?" tanya Genggi. Saat itu aku dan dia sedang duduk berdua di teras rumahnya, di suatu malam. Ia sedang mengajariku bermain gitar. "Mau dong, Geng," sahutku cepat. "Tapi kamu harus membantuku dulu," katanya sambil tersenyum. Senyum manisnya membuat kedua lututku terasa lemas. Alamaaaak. Aku langsung membayangkan pergi memancing bersamanya. Sambil menunggu pancingan, berdua duduk berdampingan di buritan kapal sambil memandang langit yang bertaburkan bintang. Romantisnya... ^ ^"Vani!" panggil Genggi membuyarkan lamunanku. "Katakan. Aku akan berusaha semampuku," ujarku penuh semangat. Genggi menatapku sejenak. Matanya yang indah membuatku tak bisa bergeming. Sambil tersenyum ia meraih tanganku. Aku semakin tidak sadar akan sekelilingku. "Bantu aku, carikan aku cewe ya..." katanya lembut. Bagaikan dihajar mobil tronton aku merasakan sakit di dada. "Gimana?" tanyanya. Aku menunduk. Perasaanku bercampur aduk. "Anu..." kataku bingung. Lamunanku tentang mancing bersamanya hanya tinggal butiran debu. "Vani?" panggilnya. Aku tidak kuat lagi. Aku bangkit berdiri. Aku ingin pulang saja. "Maaf aku tidak bisa membantumu. Aku permisi." Aku buru-buru pergi, tapi tangannya yang panjang berhasil meraih lenganku."Eit - tunggu dulu," katanya. "Masa Pip dan Kaka bisa kamu bantu, sementara aku, kamu menolak begitu saja. Ini tidak adil." Aku menatapnya. Mata kami beradu. Tapi hanya beberapa detik karena aku merasa canggung. "Baiklah. Aku akan membantumu. Akan kukenalkan dengan beberapa cewe dari sekolah tetangga. Tapi kamu sendiri yang melakukan pendekatan ya?""Tidak mau," selanya. Aku memandangnya heran. "Kalau kamu tidak mau ya sudah," sahutku. "Iya. Baiklah." Kemudian pembicaraan kami selesai. Ia kembali mengajarkan aku bermain gitar. Tapi aku sudah kehilangan semangat untuk belajar. "Kamu ga konsen ya?" tanyanya melihatku melakukan kesalahan yang sama beberapa kali."Maafkan aku. Latihan kita cukup di sini saja," kataku menyerah. "Kenapa? Karena aku menyuruhmu mencarikan aku cewe, lantas kamu kehilangan konsentrasi. Begitu?" Astaga. Aku terkejut. Kenapa dia terlalu to the point? Aku yakin wajahku pasti sudah merona. Malu. "Kalau kamu tidak suka, jangan lakukan. Kamu harus punya sikap. Dan aku menyukai cewe yang seperti itu. Tidak mudah menyerah. Ingat itu." Aku tidak bergeming. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Ia menyuruhku pantang menyerah. Apa maksudnya?Dan malam itu menjadi malam yang panjang. Penuh perenungan. Aku terus memikirkan kata-kata Genggi. Dan hatiku menjadi berbunga-bunga. Tapi sayang bunga-bunga di hatiku layu sebelum berkembang, karena keesokan harinya, Genggi dan kedua makhluk yang lain itu pergi pagi-pagi sekali tanpa memberitahuku. Aku kecewa dan marah. Dan karena marah aku memutuskan untuk menjauh dari mereka. Termasuk Genggi. Sebenarnya aku sangat merindukan mereka bertiga, tapi aku terlalu gengsi untuk melupakan rasa kecewaku. Ketika ketiga makhluk itu datang mencariku aku malah bersembunyi di kamarku. Dasar bodoh! Aku berharap ketiga sahabatku itu akan datang mencariku lagi. Semoga.
Stevani Rodriquez