Friday, 6 March 2015

Aku si Whatever

Bagian Satu

Pagi menjemput, saat aku sudah terjaga. Dengan gerakan cepat, menurutku - tapi terbalik berbanding lurus dengan fakta, aku bangun jam 5 tapi jam 5.30 aku baru pergi mandi, jam 6 selesai dan jam 6.30 aku siap berangkat sekolah dan tiba di sekolah aku terlambat. Setengah jam? Tidak. Tapi satu jam. Apakah rumahku jauh? Tidak. Sekolah dan rumahku bersebelahan. Lalu kenapa aku terlambat? Ini dia yang akan kuceritakan padamu...dengarkan baikk-baik..jangan lewatkan sedikit pun (siapa tahu setelah ceritaku tamat, ada quiznya..hehehe..)
Namaku Batavia..beneran ini namaku..aku dibaptis dengan nama itu. Biasa dipanggil Bat. Umurku menjelang tujuh belas tahun (terkadang aku ingin cepat jadi tujuh belas tahun, jadi aku suka mengaku ke semua orang kalau umurku sudah tujuh belas..hmmm..rahasia ya). Aku seorang pelajar es-em-a, kelas dua belas IPA. Aku terkenal di sekolahku sebagai si dewa rumus. Bukan sombong, tapi cuma pamer doang ya..aku merupakan juara Olimpiade Fisika yang diselenggarakan di Filandia tahun lalu. Beneran nggak ya? Aku lupa nama negara tempatku berlomba..ya whatever dah, yang jelas aku telah menoreh sejarah buat sekolahku dan diriku sendiri (terima kasih kalau kamu sampai tepuk tangannya..)
Kehidupanku sebenarnya sangat membosankan. Tidak ada waktu bermain. Belajar dan belajar. Aku ingin melakukan hal lain sebenarnya, seperti kebanyakkan remaja seusiaku, tapi...selain belajar aku tidak menemukan hal lain yang menarik. Apes kan? (Mohon jangan ditertawakan, ini serius, Gan, really!)
Sangking terlalu sering belajar, aku hampir tidak memiliki teman. Yah mana ada remaja yang mau jadi temanku, kalo entar-entar aku ajaknya begini: ah, suntuk nih..belajar yuk.. Gubrak! Bayangkan dah suntuk diajak belajar. Kabur deh...
Tapi sesepinya dunia sosialku, tetap saja, ada anak yang ingin menjadi temanku. Kenapa? Pertama, jelas karena aku pintar. Bukan sombong ya, cuma pamer. Yang kedua, walau aku pintar bukan berarti penampilanku culun. Hmmm..itu tidak ada dalam kamus keluargaku, terutama ibuku. Dia benci pada orang yang berpenampilan culun, jelek dan sekelasnya. Jadi, dengan kata lain, penampilanku selalu paling update diantara teman-teman di sekolah. Ibuku yang seorang perancang busana, jelas dia tahu apa yang cocok buatku. Yah, bersyukur juga aku punya penata busana pribadi..hehehe..Dan yang terakhir mengapa orang tetap ingin berteman denganku karena... keluargaku kaya. Yah, keluargaku kaya, tapi bukan aku ya..jadi jangan samakan aku dengan keluarga. Hmmm ada yang aneh nggak dengan pernyataanku itu..ya, whatever dah...keluargaku kaya karena ayahku seorang pengusaha sukses di bidang otomotif dan real estate. Karena bisnis ayahku maka kami bisa menempati rumah tepat di sisi sekolahku. 
Demikianlah, pengantar kehidupanku..sabar, aku belum masuk pada inti dari ceritaku..ah, kamu sudah ngantuk..yah, baiklah tidur dulu..besok baru kusambung lagi..

Sunday, 17 March 2013

Catatan Anak Putih Abu-Abu: Stevani


Southern, 14 Juli 1999


Sudah dua hari terakhir, aku menghabiskan waktuku dengan Barry. Kami berbagi cerita yang selalu diwarnai canda dan tawa. Barry orangnya sangat humoris dan cool banget. Ia mirip banget dengan Genggi. Ah, aku jadi teringat pada ketiga sahabatku: Genggi, Pip dan Kaka. Uh! Mereka akan kesal jika mengetahui aku sekarang mendapatkan teman baru. Biarin saja, siapa suruh pergi mancing tidak mengajakku.  Aku ingat betul kata-kata ketiga vampir itu.

"Van, sadar dong. Kamu tuh cewe. Mana mungkin kamu betah duduk berlama-lama di tengah lautan. Kebayang ga kalau kamu yang dah itam harus terpanggang matahari di tengah lautan akan jadi apa nantinya?""Kayak sate hangus diberi kecap... Hahaha..."Ketiganya tertawa mengejekku.Padahal aku sudah mencari muka dengan ketiga cecurut itu. Aku menurut saja ketika diminta bantuan. Tapi hasil akhirnya, tetap saja aku tidak diperbolehkan ikut. Mereka ternyata hanya memanfaatin tenagaku saja. Ini yang membuatku kesal dan menyatakan perang dingin dengan ketiga makhluk aneh itu. Masih teringat bagaimana aku berusaha memenangkan hati mereka demi mendapatkan ijin mereka untuk ikut memancing. "Kaka, aku bantu kamu ngerjain pe-er Fisikamu ya? Bila perlu, kamu nyalin aja punyaku. Aku sudah selesai koq," bujukku saat aku bertandang ke rumahnya. Kaka pura-pura tidak mendengarkanku. Ia sibuk mencoret-coret buku gambar di depannya."Kaka!" seruku kesal. Ku tarik saja buku gambarnya."Masa cuma per-er Fisika, Van," Pemerasan dimulai. "Sekalian aja pe-er Bahasa Inggris dan tugas mengarang. Gimana?""Enak aja. Apa aku budakmu?" sahutku sewot. Gimana tidak, dikasi hati minta jantung. HEH!"Ya, sudah. Terserah. Paling-paling kamu ga bisa ikut mancing dengan kita." Kaka mulai mengancam."Kalao cuma Fisika dan English, aku sih tidak keberatan. Tapi kalau lebih... Ogah!" AKu putuskan bila Kaka tidak setuju maka aku tidak akn membantunya sama sekali."Baiklah."Dengan semangat kemudian kubawakan buku pe-erku untuk Kaka.Berbeda dengan Kaka yang membenci pe-er, untuk mencari muka dengan Pip, aku harus rela seharian menjadi ABENG - anak bengkel. Seharian aku membantunya membongkar-bangkir motor racingnya. Pakaianku kotor karena oli, badanku keringatan karena kepanasan terkukung di dalam garasi, dan wajahku menjadi kusam. Aku benar-benar dekil saat itu."Van, ambilin obeng nomor lima belas. Eh, sekalian sabun cap tangannya," perintah my BOSBENG - bos bengkel."Van, kamu kikis pelan-pelan sabunnya, terus campurin dengan bensin. Tapi sedikit aja bensinnya. Ingat, dikit aja!" jelas Pip. "Setelah itu kamu oles di body mesin. Biar mengkilat. Silau man!""Aduh, Pip. Kapan selesainya nih? Aku sudah gerah nih. Pengen mandi." Aku merasa tubuhku sudah menyatu dengan T-Shirt DAGADU - dasar gadis dungu."Eh - Van, baru segini aja kamu sudah mengeluh. Gimana mancing nanti?" kilah Pip. Ia membuatku tidak punya pilihan. Dan aku pun mengerjakan semua instruksi yang sudah ia jelaskan. Sedih!
Jika Kaka dan Pip memerasku dengan tenaga, berbeda dengan Genggi. Cowo yang diam-diam mendapat tempat spesial di hatiku itu malah memerasku lewat perasaan. Duh, lebih baik sakit badan dari pada sakit hati... "Van, kamu mau tidak ikut kita pergi mancing?" tanya Genggi. Saat itu aku dan dia sedang duduk berdua di teras rumahnya, di suatu malam. Ia sedang mengajariku bermain gitar. "Mau dong, Geng," sahutku cepat. "Tapi kamu harus membantuku dulu," katanya sambil tersenyum. Senyum manisnya membuat kedua lututku terasa lemas. Alamaaaak. Aku langsung membayangkan pergi memancing bersamanya. Sambil menunggu pancingan, berdua duduk berdampingan di buritan kapal  sambil memandang langit yang bertaburkan bintang. Romantisnya... ^ ^"Vani!" panggil Genggi membuyarkan lamunanku. "Katakan. Aku akan berusaha semampuku," ujarku penuh semangat. Genggi menatapku sejenak. Matanya yang indah membuatku tak bisa bergeming. Sambil tersenyum ia meraih tanganku. Aku semakin tidak sadar akan sekelilingku. "Bantu aku, carikan aku cewe ya..." katanya lembut. Bagaikan dihajar mobil tronton aku merasakan sakit di dada. "Gimana?" tanyanya. Aku menunduk. Perasaanku bercampur aduk. "Anu..." kataku bingung. Lamunanku tentang mancing bersamanya hanya tinggal butiran debu. "Vani?" panggilnya. Aku tidak kuat lagi. Aku bangkit berdiri. Aku ingin pulang saja.  "Maaf aku tidak bisa membantumu. Aku permisi." Aku buru-buru pergi, tapi tangannya yang panjang berhasil meraih lenganku."Eit - tunggu dulu," katanya. "Masa Pip dan Kaka bisa kamu bantu, sementara aku, kamu menolak begitu saja. Ini tidak adil." Aku menatapnya. Mata kami beradu. Tapi hanya beberapa detik karena aku merasa canggung. "Baiklah. Aku akan membantumu. Akan kukenalkan dengan beberapa cewe dari sekolah tetangga. Tapi kamu sendiri yang melakukan pendekatan ya?""Tidak mau," selanya. Aku memandangnya heran. "Kalau kamu tidak mau ya sudah," sahutku. "Iya. Baiklah." Kemudian pembicaraan kami selesai. Ia kembali mengajarkan aku bermain gitar. Tapi aku sudah kehilangan semangat untuk belajar. "Kamu ga konsen ya?" tanyanya melihatku melakukan kesalahan yang sama beberapa kali."Maafkan aku. Latihan kita cukup di sini saja," kataku menyerah. "Kenapa? Karena aku menyuruhmu mencarikan aku cewe, lantas kamu kehilangan konsentrasi. Begitu?" Astaga. Aku terkejut. Kenapa dia terlalu to the point? Aku yakin wajahku pasti sudah merona. Malu. "Kalau kamu tidak suka, jangan lakukan. Kamu harus punya sikap. Dan aku menyukai cewe yang seperti itu. Tidak mudah menyerah. Ingat itu." Aku tidak bergeming. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Ia menyuruhku pantang menyerah. Apa maksudnya?Dan malam itu menjadi malam yang panjang. Penuh perenungan. Aku terus memikirkan kata-kata Genggi. Dan hatiku menjadi berbunga-bunga.  Tapi sayang bunga-bunga di hatiku layu sebelum berkembang, karena keesokan harinya, Genggi dan kedua makhluk yang lain itu pergi pagi-pagi sekali tanpa memberitahuku. Aku kecewa dan marah. Dan karena marah aku memutuskan untuk menjauh dari mereka. Termasuk Genggi. Sebenarnya aku sangat merindukan mereka bertiga, tapi aku terlalu gengsi untuk melupakan rasa kecewaku. Ketika ketiga makhluk itu datang mencariku aku malah bersembunyi di kamarku. Dasar bodoh! Aku berharap ketiga sahabatku itu akan datang mencariku lagi. Semoga. 


Stevani Rodriquez

Sunday, 12 June 2011

Honey and Poison (4)


Seperti menatap gunung batu yang berlapis salju. Diam. Dan dingin. Begitulah punggung seorang Honey di mata Poison. Sudah sejak pagi saat pelajaran pertama dimulai, Poison hanya bisa menatap punggung anak itu. Tidak sekali pun Honey membalikkan badannya sekedar untuk memastikan ia masih berada di tempatnya.
Hari ini Honey terlihat mengabaikannya. Jangankan menyapanya membuang pandangan ke arahnya pun tidak sama sekali.

Kenapa dengan dia. Pikir Poison. Gua buat salah apa ya.

Poison mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah ia lakukan hari ini. Sebelum bel masuk berbunyi, Poison tidak mendapati Honey di kelas kecuali tas panda birunya yang berada di atas mejanya. Honey pergi entah kemana dan baru muncul ketika bel masuk berbunyi beberapa saat. Dan dari bel masuk hingga sekarang mereka belum berbicara sama sekali. Itu membuat Poison yakin ia tidak membuat kesalahan pada dirinya.

Kalo kayak ginian, bisa kacau rencana gua. Pikir Poison.

Akhirnya pada istirahat kedua Poison nekat menghampiri Honey. Tapi anak itu langsung sigap begitu melihat bayangan Poison. Ia bergerak cepat ke arah pintu. Namun ia tidak bisa mengalahkan langkah panjang Poison. Hanya dengan sekali sigap Poison berhasil meriah tangannya.

"Mo kemana?" tanya Poison sambil mencengkram tangan Honey.

"Apaan sih?" protes Honey sambil berusaha melepaskan diri. Poison membiarkan ia bebas.

"Gua mo ke kantin. Lapar." ujar Honey tanpa memandangnya. Ia membiarkan Honey keluar sambil mengekorinya.

"Lu kenapa sih?" tanya Poison.

"Kenapa apa?" ujar Honey balik bertanya membuat Poison mengurungkan langkahnya. Ia terhenti.

Mungkin gw ga harus tanya dia sekarang. Pikir Poison. Suasana hatinya sedang tidak senang. Entah apa yang membuatnya kesal. Pikir Poison lagi. Ide pergi ke pesta bersama menjadi tidak menarik lagi, justru perubahan sikap Honey yang menimbulkan rasa ingin tahu padanya.

Setelah bel panjang tanda jam sekolah telah usai berbunyi, Poison kembali menghampiri Honey. Tanpa bicara atau pun memandang wajah Honey, ia hanya mengelus sesaat lengan anak itu sebelum ia berlalu pergi. Ia memilih cara itu agar Honey tahu bahwa ia tetap memperhatikannya walau suasana hati anak itu sedang tidak senang.

Kepergian Poison dengan cara demikian membuat Honey merasa bersalah. Anak itu tidak tahu kesalahannya. Tapi Honey juga tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap. Membiarkan Poison dengan segala ketulusannya atau mengatakannya bahwa perhatiannya itu mengganggu Honey.

Sambil berjalan menuju gerbang sekolah, Honey memandang punggung Poison. Langkah anak itu terlihat tidak segagah biasanya. Bahkan tubuh tinggi dan tegap itu terlihat seperti seorang tentara yang kalah perang. Perasaan iba semakin menggerogoti hatinya.

"Ina. Lu yakin Poison tidak bersikap sekedar teman?" tanya Honey saat mereka berada di angkot dalam perjalanan pulang.

"Gua yakin." sahut Ina percaya diri.

Honey merasakan beban yang semakin berat. Ada perasaan tertekan. Tapi perasaan lain yang lebih besar dari perasaan marah atau kesal saat pertama kali mendengar pernyataan Ina tentang perhatian Poison. Mungkin perasaan iba dan bersalah. Apakah ia harus menyesali sikapnya pada Poison hari ini. Tapi semua sudah terjadi. Tidak boleh ada kata menyesal.

"Tapi gua kasian juga melihat Poison hari ini." kata Ina tiba-tiba.

Seperti menampar muka sendiri. Honey jadi benar-benar bersalah.

"Maksud lu?" tanyanya Honey. Suaranya begitu pelan.

"Dia sibuk bolak-balik di meja lu. Memandang punggung lu selama pelajaran. Dan matany tidak pernah lepas dari lu. Kasian sekali dia." ujar Ina.

Honey menjadi gunda gulana.

"Ini semua gara-gara lu sih." Tiba-tiba Honey menjadi kesal.

"Lho - kok gara-gara gua?"

"Iya. Kalo lu ga ngomong apa-apa soal dia kan gua akan kesal." sela Honey.

"Lha gua kan bicara apa adanya. Lu aja yang mo menghindar."

Honey terdiam. Sekarang ia benar-benar kesal bukan pada Ina tapi terhadap dirinya sendiri.

"Gua tuh ga ngerti kenapa sih lu bersikap demikian. Gua pikir lu akan senang bila Poison suka sama lu." ujar Ina.

Honey tidak mempedulikannya. Malah ia memposisikan duduknya ke arah yang berlawanan dari Ina.

"Lu tuh bego, Hon. Cowo secakep Poison lu lewatkan." ujar Ina sambil menjitak kepala Honey tapi hal itu bersamaan dengan rem mendadak angkot. Spontan dahi Honey mendarat di kaca jendela belakang angkot.

"Aduh." Honey meringis kesakitan. Tapi Ina malah tertawa terpingkal-pingkal.

"Senang lu. Dah yakitin hati gua plus jidat gua." keluh Honey sambil mengelus-elus dahinya.

"Sori, pren." kata Ina disela tawanya.

Tapi Honey tidak benar-benar kesal lagi. Peristiwa tadi malah membuatnya merasa tenang kini.

Pois jelek maafin gua ya. Ujar Honey dalam hati. Ia kemudian ikut-ikutan Ina menertawai dahinya yang kepentok.

Sunday, 10 April 2011

Honey and Poison (3)

Poison menatap gagang telepon di tangannya. Ia tidak percaya teleponnya ditutup begitu saja oleh Honey.

"Kenapa kamu?" tanya Papa Moritz - ayahnya yang tiba-tiba muncul di ruang keluarga.

"Ga kenapa-kenapa,Pa." sahut Poison lemas.

"Jangan melamun terus." ujar Papa Moritz. " Sudah sore nih. Pel rumah."

"Iya." Poison meletakkan gagang telepon masih dengan tidak bersemangat. Bahkan langkahnya diseret dengan enggan.

Ia sudah berharap bisa ke pesta bersama Honey. Ini mungkin saja akan menjadi kebersamaan pertama mereka di luar dari kegiatan sekolah. Selama ini mereka tidak pernah janjian untuk bertemu. Karena itu Poison merasa ini alasan yang tepat untuk mengajak Honey. Ia berpikir setidaknya harus ada yang memulai atau persahabatan mereka tidak akan berkembang. Poison baru mengenal Honey selama dua bulan saat di kelas sebelas ini. Saat di kelas sepuluh ia hanya mengenalnya sekilas karena mereka tidak sekelas. Honey bukan anak yang populer di sekolah, teman-temannya juga tidak banyak, tapi dari guru, satpam sampai ibu kantin mengenalnya dengan baik. Anak itu sebenarnya cukup ramah pada orang-orang di sekitarnya tapi sikap acuh tak acuhnya yang membuat ia terkesan tertutup, namun sebenarnya kebanyakkan orang mengingatnya karena nama besar ayahnya. Ayahnya adalah seorang pengusaha besar di kota ini. Bisnisnya meliputi peternakan sapi, travel, taksi, restauran dan bank perkreditan. Awalnya Poison tidak menaruh perhatian yang besar pada anak itu tapi sejak mereka sekelas ia melihat banyak hal yang menarik dari manusia super cuek itu. Dan tiba-tiba saja ia merasa tidak boleh menyerah.

Besok gua akan coba lagi di sekolah. Pikirnya bersemangat.

"Melamun aja!" seru Donald - abangnya. Poison sempat tersentak.

"Kamu jadi ga pake motor hari Sabtu?" tanyanya sambil menatap Poison penuh selidikan.

"Jadi dong Kak." sahut Poison cepat. Jangan sampai abangnya berubah pikiran. Ia sudah rela mendeposit uang jajannya sebulan hanya demi meminjam motor abangnya.

"Mau kencan ya?" tanya Dinold lagi.

"Enak aja." protes Poison.

"Emang enak. Belum rasa sih." sahut Dinold. "Buruan. Entar keburu karatan." Katanya sambil tertawa penuh makna.

Poison hanya menggerutu tidak jelas. Ia buru-buru menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Selain menyapu dan mengepel lantai ia masih harus menyiram bunga-bunga kesayangan ibunya dan mencuci mobil ayahnya. Ia membayangkan tangan Honey yang lembut. Pasti anak itu tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sama sekali. Dasar anak manja. Tapi ia tidak merasa anak itu benar-benar manja dan malas, karena di sekolah anak itu tidak pernah mengeluh bila harus bertugas membersihkan kelas. Bahkan ia sangat menikmatinya.

Manusia unik. Ujar Poison dalam hati sambil tersenyum.

"Son!" seru Mama Teci - ibunya. Poison kembali tersentak.

"Jangan melamun kalau nyiram. Airnya jadi kebanyakkan. Sayangkan kalau bunganya mati. Mana belinya mahal lagi. Kamu tau kan kalo Mami ga mau keluarin duit sia-sia. Siram yang bener." ngoceh Mama Teci hanya dalam dua ketukan nada. Poison hanya menatap ibunya dengan tidak senang.

"Maaf. Mami tidak bermaksud mengagetkan kamu." ujar Mama Teci merasa bersalah melihat wajah Poison yang menyedihkan.

"Bukan itu!" teriak Poison.

"Idih. Jangan marah dong, Nak." sela Mama Teci bingung. "Memangnya kamu kesal karena apa?"

"Aku kan dah bilang jangan panggil aku 'Son'. Memangnya aku orang kampung?" protes Poison. Ia kesal setiap ibunya memanggilnya dengan sebutan demikian, karena ia selalu menemukan orang-orang dari kampung yang memiliki panggilan demikian.

"Ya ampun. Mami kira kamu marah karena kaget. 'Son' itu kan dari bahasa Inggris, yang artinya anak laki-laki." jelas Mama Teci.

"Iya. Benar. Tapi pengucapannya bukan lurus-lurus kayak gitu." ujar Poison masih kesal.

"Oh gitu ya. Pantesan Mami ditertawain Mama Nona waktu kursus bahasa Inggris kemarin." sahut Mama Teci sambil tertawa geli.

Ya ampun. Mami gua benar-benar gaul abis. Pikir Poison.

Saturday, 9 April 2011

Honey and Poison (2)

Matahari sudah condong ke barat saat Honey terbangun dari tidur siangnya. Dengan rasa kantuk yang masih menggantung di mata, Honey menyeret langkahnya menuju teras depan. Di sana ia terduduk melamun. Suasana sore kurang tidak disukainya karena memberi suasana suram. Sore menandakan malam akan segera datang dan siap menggantikan hari ini dengan esok. Padahal setiap hari ia merasa begitu indah. Kecuali hari ini. Ia merasa tertekan memikirkan hari ini dan seterusnya. Bagaimana ia harus bersikap pada Poison. Seperti buku yang terbuka ketika menyadari ucapan Ina benar. Pantas saja terkadang ia merasa sikap yang ditujukan Poison padanya sangat berbeda dari Adi Papa dan Ama. Poison tidak suka bila ia bersikap tengil bila bersama Betty si tomboy di kelasnya. Ia juga suka mondar-mandir layaknya setrika panas bila melihat Honey mengobrol dengan teman cowo dari kelas yang lain. Dan yang mencurigakan ia selalu menyamakan penampilannya dengan Honey. Bukan hanya dari kerapian seragam, tapi ikat pingang, sepatu dan model tas selalu terlihat mirip dengannya.

Huh, keluh Honey dalam hati. Sebaiknya gua menghindar saja darinya.

Rasa tekad yang mungkin bisa saja bisa mendatangkan penyesalan membuat ia beranjak kembali ke kamarnya.

Untuk melepas sore, Honey mulai melakukan ritualnya. Ia memasukkan CD ke player dan dengan sekali pencet remote, suara musik menghentak mulai melingkupi ruang kamar tidurnya. Dan seperti keserupan hantu rocker pecicilan anak itu mulai berjingkrak-jingkrak tidak karuan.

"Woi! Kecilin musiknya! Lu mau rumah kita dilempar orang." Tiba-tiba Mamanya muncul. Suara cemprengnya ternyata mampu mengalahkan suara musik dan membuyarkan semangat Honey.

"Aduh,Ma. Jangan teriak-teriak dong." ujar Honey setelah mengecilkan suara musik.

"Yang ada tuh, rumah kita dilempar orang karena suara cempreng Mama." katanya sambil tertawa meledek Mama Lince.

"Anak kurang ajar." sahut Mama Lince sambil melotot.

"Cepetan terima telepon dari temanmu." katanya sambil berbalik pergi tanpa memberi kesempatan pada Honey bertanya tentang penelponnya.

"Halo?" ujar Honey saat ia telah meraih gagang telepon.

"Hai,Hon. Ini aku Pois." Suara Poison terdengar di ujung sana.

"Ya?" sahut Honey dengan enggan. Ia baru berencana akan menjaga jarak tapi anak itu sudah muncul di telepon.

"Ke pesta ga?" tanyanya.

Honey teringat hari Sabtu nanti akan ada pesta ulang tahun Peggy.
Ia terdiam menimbang. Hari Sabtu adalah hari kemerdekaannya, selain jalan-jalan dan nongkrong sama teman-teman, ia tidak punya rencana khusus lainnya. Dan ia merasa tergoda untuk menghadiri pesta teman sekolahnya itu. Setidaknya ia akan menambah teman bila ia menghadiri pesta itu nanti. Tapi ia tidak mau pergi ke pesta itu dengan Poison.

"Sori. Gua udah punya acara." katanya berbohong.

"Acara apaan?" tanya Poison.

"Yah, acaralah." sahut Honey malas. Emang perlu gua jelasin ke elu? Pikir Honey kesal.

"Acara apaan sih?" tuntut Poison.

"Acara syukuran.." sela Honey sengaja mengantung kalimatnya.

"Syukuran apa?" kejar Poison.

"Nenek gua ganti kulit."

Kilk! Honey langsung menutup telepon. Lantas ia tertawa geli.

"Eh - ketawa sendirian!" ujar Fence sang kakak saat berjalan melewatinya. Tapi Honey tidak peduli ia tetap saja tertawa. Membayangkan kekesalan Poison karena dikerjain.

"Berhenti ketawa!" suara cempreng Mamanya kembali bergema. Kali ini terdengar dari dapur. Honey hanya berhenti sejenak. Tapi kemudian ia tertawa denga suara kecil.

"Jangan berhenti ya!" suara Mamanya terdengar mengancam.

Gila! Mama gua kayak dewa aja. Tau kalo gua masih ketawa juga. Pikir Honey. Ia berhenti tertawa dan hanya terduduk di dekat telepon. Melamun.

"Lu duduk terus di sana. Tidak usah mandi." suara Mamanya kembali bergeming. Seperti suara nyamuk di kuping. Mengganggu sekali.

Mama gua kok bisa tau apa yang gua buat. Pikir Honey. Sambil beranjak ia mengamati seluruh sudut ruangan. Jangan-jangan di rumahnya ada kamera CCTV.

Honey and Poison (1)

Pagi datang dengan gembira. Ditandai dengan langit cerah. Waktu sudah menunjukkan jam 06.00. Setelah memberi salam kedua orang tuanya, Honey berjalan keluar rumah dengan langkah gagah. Remaja berusia tujuh belas tahun itu menenteng tas punggung biru berbentuk boneka panda.
"Honey!" panggil Ina. Tetangga sekaligus teman sekolahnya. Gadis berwajah imut-imut dan manis itu mengejar langkah Honey.
"Tumben hari ini lu berangkat pagi." katanya.
"Maksud lu?" tanya Honey sambil melotot.
"Lu kan selalu kesiangan." ledek Ina acuh.
"Idih! Bisanya cuma melihat kejelekkan orang." protes Honey sambil mencibir. Tapi kemudian ia tertawa.

Lalu sepanjang perjalanan dengan angkot ke sekolah keduanya asik berbincang dari masalah sekolah sampai pada masalah gebetan. Tapi dibanding Honey, Ina lebih jelas gebetannya.
"Iya. Tau yang dah mo jadian?" keluh Honey.
"Makanya lu buruan cari dong. Anak SD aja dah pada koleksi. Masa lu kalah ama anak SD." ujar Ina sambil tertawa. Wajah Honey seperti tersengat lebah. Meringis. Sebel bercampur depresi.
"Eh - kalo gua mentingin sekolah. Bukan kayak lu pacaran melulu. Tuh rapor dah kayak kebakaran hutan." sanggah Honey. Giliran Ina yang mencibirnya. Tapi keduanya kembali tertawa berbarengan.
"Gimana dengan Poison?" tiba-tiba Ina bertanya.
"Poison? Kenapa dengan dia?" Honey balik bertanya.
"Bukannya kalian dekat." sahutnya.
"Eit - kami cuma teman biasa." sanggah Honey.
"Oya? Tapi gua merasa Poison tidak menganggapmu cuma teman biasa." sahutnya.
Honey terperangah. "Maksud lu?"
"Menurut gua, Poison itu suka sama lu." ujarnya Ina dengan wajah serius.
"Jangan ngaco lu! Dia itu cuma menganggap gua teman." tukas Honey. Ia tidak percaya pada ucapan Ina. Selama ini Poison adalah salah satu teman cowo di kelas yang cukup dekat dengannya.
Tapi itu tidak bisa mengubah sikap Ina. Anak itu kembali mencoba meyakinkan Honey. "Perhatikan cara dia memperlakukan lu, Hon." katanya." Terhadap lu, dia sangat perhatian dan peduli. Dia suka memujimu, mencari-cari perhatianmu, salah tingkah di depanmu dan bahkan sering memegang tanganmu."
"Masa sih?" ujar Honey. Ia terlihat bingung. Sedikit percaya tapi sedikit tidak percaya pula.
"Iya. Lu mungkin ga nyadar. Tapi gua pengamat yang sangat baik."
"Gak mungkin." bisik Honey. Seolah-olah ia bicara sendiri.
"Kalo lu ga percaya. Coba aja lu perhatikan sikap dia ke lu hari ini." tandas Ina.
Honey menatapnya dengan tidak percaya tapi anak itu balas menatap dengan penuh keyakinan.
Tiba-tiba perutnya terasa keram. Ada sesuatu yang menekan dirinya. Rasa tidak suka bila ternyata Ina benar. Ini berarti persahabatan Poison tidak tulus. Makhluk jelek itu akan gua pangkas kalau hari ini dia berani dekat-dekat dengan gua. Pikir Honey marah.

Dua puluh menit kemudian mereka tiba di sekolah.
"Eh - lu kok datang pagi sih?" sambut Bento dengan wajah tidak bahagia. Ia berharap kali ini ada kesempatan buat bolos lagi bila Honey terlambat. Karena sebagai ketua kelas ia bertugas membawa kunci kelas. Kalau ia terlambat, tentu saja teman-temannya terpaksa harus menunggu di luar dulu. Kesempatan inilah yang digunakan beberapa temannya untuk bolos pelajaran pertama.
"Lu sumpahin gua dimarahin wali kelas." sahut Honey. Dengan cepat ia membuka pintu kelas.
Saat ia menaruh tas di meja paling depan, Poison berjalan melewatinya. Anak itu memasang senyum paling manis. Lupa dengan kekesalannya, Honey balas tersenyum. Tapi kemudian ia teringat kata-kata Ina. Lalu ia memperhatikan apakah Poison juga tersenyum pada yang lain. Ternyata pada yang lain ia bersikap dingin. Tentu saja ia akan tersenyum pada Honey bukankah mereka teman dekat.
"Cie..cie..Yang saling melempar senyum." bisik Ina.
"Apaan sih? Kurang kerjaan? Tuh sapu lantai. Hari ini kan lu piket." sahut Honey. Ia bergegas keluar. Ia tidak ingin Ina melihatnya tersipu-sipu. Tapi tentu saja mata Ina sudah terlatih untuk mendeteksi setiap gerakannya yang terkecil sekalipun.
"Meong!!" serunya sebelum Honey menghilang di balik pintu.

Sementara di luar, Honey duduk-duduk dibawa pendopo di depan kelas. Masih ada setengah jam lebih sebelum masuk. Tak lama kemudian Poison keluar dari kelas. Mata mereka beradu. Jantung Honey serasa akan meloncat keluar.
"Tumben kamu tidak terlambat." sapa Poison sambil duduk di sebelahnya. Perutnya tiba-tiba merasa keram. Idih! Tiap hari ketemu dengannya, kenapa hari ini gua gugup? Pikir Honey.
"Lu pengen gua telat tiap hari?" ujar Honey setelah bisa menguasai diri.
" Ga juga sih. Tapi hari ini aku pengen bolos." ujarnya. "Kamu mau ikut ga?"
" Gua ga pernah bolos." sahut Honey.
" Kalo gitu kita bolos hari ini." katanya sambil meraih tangan Honey.
" Kamu mau apa sih?" kata Honey sambil menarik tangannya. Tapi tidak berhasil.
" Ayo." Poison menariknya dengan kuat. Karena kalah kekuatan Honey menurut saja. Ia mengikuti langkah Poison yang panjang dengan tergopoh-gopoh.
" Hei, kalian mau kemana?" Ina tiba-tiba keluar kelas dan mendapati mereka sedang berjalan melewati koridor kelas.
Melihat ekspresi menggoda Ina, Honey langsung menghentak tangan Poison. Sekali hentakkan tangan itu terlepas. " Gua ga mau bolos!" kata Honey kemudian langsung berbalik kembali ke kelas. Poison hanya terpaku. Ia berdiri menatap punggung Honey yang setengah berlari meninggalkannya.

Thursday, 26 March 2009

Kencan Terselubung


Beberapa hari belakangan ini selalu ada hujan di sore hari, padahal musim penghujan belum juga dimulai. Suasana sore dan hujan selalu memberi dampak sedih pada perasaan.
Aku duduk di pinggiran tempat tidur sambil memandang ke jendela. Air hujan yang mengalir di kaca jendela mengaburkan pemandangan di luar. Hanya samar-samar aku melihat bayangan pucuk pohon pinus di halaman depan rumah.
Setiap bangun tidur di sore hari aku selalu merasa kosong. Dan juga sedih. Aku merasa sedih karena harus mengakhiri hari itu. Bagiku sore membuat hari menjadi lebih singkat. Begitu malam datang berarti esoknya akan datang hari baru lagi. Aku merasa tidak siap berpisah dengan hari itu. Mungkin karena aku merasa setiap hari yang kujalani itu indah.

Hari ini masih seperti dua hari yang lalu terasa berat bagiku setelah dicuekin habis oleh makhluk berhati dingin itu. Hari ini secara tidak sengaja aku bertemu dengannya dan teman-teman di depan lobi kampus. Dan seperti biasa ia tidak melihat ke arahku.Tapi sorot matanya lebih dingin dari biasa. Dan wajah sempurnanya juga terlihat lebih kaku. Aku ingin menyapanya kali ini tapi kata-kataku hanya terucap di pikiranku. Aku merasa lebih gugup dari sebelumnya. Tak lama aku bergabung ia kemudian berpamitan pada yang lain tanpa menghiraukanku. Oh, Tuhan. Sebenci itukah ia padaku?
Seharusnya aku tidak memiliki harapan apapun dari sikap dinginnya. Aku menyesal. Dan merasa bersalah.
Dua hari yang lalu, aku dan teman-teman berencana pergi menonton film " Eagle Eye". Aku merasa senang sekali karena ia bersedia ikut. Jarang sekali ia mau pergi bersama-sama bila aku diikutsertakan. Pagi hari aku sudah bangun dan merawat diri. Dari luluran, maskeran sampai creambath ke salon segala.
Jam empat sore aku sudah siap. Tapi ketika hendak berangkat, hujan deras turun seketika. Aku sempat kalut dan kesal pada hujan. Namun aku tidak menyerah begitu saja. Bermodal payung lipat aku menembus deras hujan. Aku berjalan dengan hati-hati di sepanjang jalan gang kecil yang sudah dipenuhi air semata kaki. Sepatu putihku basah, begitu juga ujung celana jeans. Bahkan sebagian blus yang kupakai juga basah karena terpaan angin bercampur hujan.
Setelah berada di jung gang aku mencegat bajaj. Tanpa merudingkan tarif aku langsung melompat masuk.
"Kemana,Neng?"
"Ke mall Puri Indah ya,Bang."sahutku sambil melipat payung.
Di dalam perjalanan aku sibuk mengeringkan baju dan jeansku dengan sapu tangan handuk. Aku juga mencopot sepatuku dan mendirikannya agar cepat kering bila diangin-anginkan.
Jarak dari tempat tinggalku ke mall sekitar dua puluh menit. Aku merasa memiliki cukup waktu untuk membenahi diri. Apalagi abang bajaj juga tidak mengebut. Aku masih punya waktu satu jam sebelum waktu janjiannya.
Ini pertama kalinya aku bisa nonton bersamanya. Lama sekali aku merindukan hal ini. Walaupun ini bukan janjian berdua tapi bisa pergi nonton bersama dengannya membuatku bahagia. Bahkan aku merasa seperti kencan terselubung untuk kami berdua. Kencan terselubung? Aku tertawa sendiri. Dasar pikiran bodoh. Seenaknya membuat kesimpulan.
Aku memandang keluar jendela. Hujan masih lebat. Bagaimana bila ia batal datang karena hujan. Tiba-tiba pikiran itu muncul. Tidak mungkin! Tidak mungkin ia tidak bisa datang hanya karena hujan. Ia pasti bisa datang dengan mobil pribadinya. Tapi perasaan cemas menggerogotiku. Oh,please..

Setelah membayar ongkos, aku bergegas masuk ke dalam mall. Aku menyempatkan diri ke toilet sebentar. Pakaian yang lembab dan suhu dingin di dalam mall membuatku ingin segera ke toilet.
Saat keluar dari toilet aku menangkap bayanganku di cermin wastafel. Astaga! Aku telihat berantakan. Rambutku acak-acakan, baju terlihat lembab dan sebagian bedak di wajahku memudar. Apakah saat ini adalah ide yang baik untuk bertemu dengannya? Apa sebaiknya aku pulang saja?
Tiba-tiba handphoneku berdering. Sebuah SMS masuk.
Kalian dimana? Aku sudah di 21. Sendirian.
Itu SMS darinya. Rupanya dia sudah tiba lebih awal dari semua. Dan bila aku datang berarti hanya akan ada dia dan aku. Wah, gawat! Aku pasti akan mati gaya bila berada di dekatnya berdua-dua saja.
Keluar dari toilet, aku memutuskan untuk tidak langsung menemuinya. Sebaiknya aku datang belakangan saja. Jika teman-teman ada di sana aku tidak akan kesulitan bersikap. Setidaknya aku tidak perlu memulai percakapan dengannya atau kami tidak hanya terdiam membisu. Ide yang cukup bagus.
Aku tersenyum dalam sambil melangkah menuju Pizza Hut. Sebaiknya aku menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi.
Setelah memesan Deluxe Prawn Bruchett dan secangkir kopi panas non cafein, aku mengirimkan SMS ke teman-teman menanyakan keberadaan mereka. Dan tidak lama kemudian tiga SMS masuk berebutan. Masing-masing dari Tina, Pip dan Kaka.
Tina mengabari kalau ia belum mendapatkan mobil karena masih dipakai ibunya. Sementara Pip sedang dalam perjalanan tapi terjebak macet karena hujan lebat. Dan Kaka menyatakan tidak bisa datang karena pacarnya marah tidak diajak serta. Weleeh...
Dan itu pertanda buruk. Sepertinya aku tidak bisa menghindar. Tapi... sejujurnya aku memang berharap mereka tidak datang jadi ada kemungkinan aku bisa nonton berdua dengannya. Dasar pikiran bodoh... Tapi diam-diam perasaan senang membanjiri hatiku. Dasar bodoh.
Aku melirik jam tangan. 04.40 p.m. Aku masih punya waktu dua puluh menit sebelum menemuinya. Dan berharap Pip sudah akan ada di sana saat aku datang.
Waktu berlalu begitu cepat, walau aku berusaha melahap Deluxe Prawn Bruchett dengan perlahan. Kuputuskan untuk tetap di sana sampai semua makananku habis. Siapa tau Pip sekarang sudah berada di sana dan mereka sedang memesan ticket jadi begitu aku datang, kami sudah siap menonton saja.
Waktu tambahan lima belas menit yang kuberikan untuk diriku sudah berlalu juga. Makanan pun sudah ludes tak tersisa. Tapi aku masih belum beranjak dari tempatku. Aku ingin memberi diriku waktu tambahan lagi. Mungkin sepuluh menit lagi.
Handphone kembali berdering. Sebuah SMS masuk. Dari dia lagi.
Kalian dimana? Filmnya hampir mulai.
Rupanya Pip belum datang juga. Mungkin aku sebaiknya ke sana. Membiarkannya terus menunggu membuatku semakin pengecut.
Antara rasa bingung dan rasa bersalah aku bergegas ke bioskop twenty-one di lantai atas.
Di antara keramaian orang di dalam area tunggu bioskop aku bisa menemukan sosoknya. Ia berdiri bersandar di dekat papan reklame. Hari ini ia terlihat berbeda. Semakin sempurna. Ia memakai t-shirt putih bergambar Albert Einstein di balut jas bludru hitam danjeans denim nakame minami raw berwarna biru tua yang dihiasi sabuk berantai perak. Bahkan model rambutnya juga berbeda karena diberi jelly dan disisir ke atas. Bergaya mohawk punk.
Astaga, hari ini ia benar-benar seperti model yang biasa kulihat di Fashion TV.
Terlalu bagus hingga setiap mata selalu melirik dan memperhatikannya. Dan itu membuatku berat mendekatinya. Kepercayaan diri yang kubangun rontok seperti kaca pecah.
Aku mendekatinya dengan ragu-ragu. Tapi tak sanggup, aku berhenti agak menjauh darinya. Ia sedang mengutak-atik handphonenya. Sepertinya ia tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Aku kemudian terpaksa maju beberapa langkah hingga berhenti tepat di depannya. Perlahan ia mengangkat wajahnya karena merasa keberadaan seseorang.
Ia memandangku sekilas. Tapi itu cukup membuatku terhipnotis dan menjadi beku di tempatku. Bahkan senyum yang kupaksakan tertahan di sudut.
"Mana yang lain?" suaranya terdengar marah dan acuh.
"Hmm...Mereka tidak..."
Belum sempat kuselesaikan kalimatku ia sudah menyelonong pergi. Aku mengikutinya. Rupanya ia ingin duduk di kursi yang ditata melingkari tiang penyangga.
Ia duduk bersandar dengan santai sambil berpangku kaki. Sementara aku berdiri kaku di depannya. Ragu-ragu untuk bicara. Melihatku terbengong ia bergeser dan memberiku tempat. Aku menjadi semakin kikuk dan bingung memutuskan. Apakah aku akan kuat duduk di sebelahnya? Bagaimana kalau aku pingsan nanti? Aduh... apalagi tempat yang tersedia tidak cukup luas karena banyak pengunjung yang sudah menempatinya.
"Buruan..." desaknya. Aku langsung menyadari orang-orang di sekitar punya peluang mengambil alih tempat tersebut. Dan tanpa menimbang lagi segera aku mendaratkan pantatku di sofa empuk itu. Tapi setelah mendudukinya, dugaanku ternyata benar tempatku itu benar-benar tidak cukup lega. Bahkan kini aku merasa berhimpitan dengannya. Dan ia tidak mau mengalah bergeser maju malah tetap santai bersandar dan kembali sibuk dengan handphonenya.Sementara aku sendiri juga tidak menentu. Pikiranku mengingatkanku bahwa aku tidak tau malu jika tidak bergeser tapi perasaanku mengatakan bahwa aku ingin berada dekat dengannya. Dan begitu kuat keinginan ini membuat tubuhku tak mampu bergeming.
Aku merasa aku bukan diriku lagi. Seseorang yang lain di dalamku.
" Mana yang lain? " tanyanya dengan sedikit berbisik.
Aku melirik ke arahnya. Begitu dekatnya kami sampai-sampai aku bisa mencium bau parfumnya yang lembut, manis dan segar. Bahkan aku juga bisa melihat barisan alisnya yang tebal, hidungnya yang bangir, pipih tirisnya, bibir tipis dan rahang kokohnya. Ia jauh lebih memesona bila dilihat dari samping karena bentuk hidung dan bulu matanya yang panjang terlihat sempurna.
Ia balas melirikku. Mata kami beradu. Astaga. Cepat-cepat aku memalingkan wajah.
"Mereka dalam perjalanan." kataku mengalir begitu saja. Jantungku yang berdebar lebih cepat membuatku tak mampu berpikir lagi.
Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau bersungut atas semua ini. Sebab keadaan ini semakin membuatku menyadari bahwa aku semakin tergila-gila padanya. Dan perasaan ini juga membuatku semakin merana. Mungkin aku ibarat pungguk merindukan bulan. Dia terlalu sempurna untuk orang yang sangat biasa seperti aku ini.
"Apa sebaiknya kita menonton film yang lain saja?" ujarnya sambil tetap melirik ke arahku. Aku memutuskan untuk tidak membalas lirikannya. Cukup yang pertama tadi. Bahkan cara duduk kami yang berhimpitan sekarang ini menambah beban pada diriku. Serasa seluruh tubuhku kaku. Dan jantung sialan ini tetap terus berdebar cepat. Bahkan suaranya sangat jelas terdengar.
"Kenapa?" aku mencoba mengalahkan ketidakberdayaan ini.
"Menurutku filmnya tidak terlalu menarik."
"Oh." Aku tidak mampu menemukan kata-kata.
Sebenarnya aku ingin sekali menonton film ini. Sebab beberapa teman yang sudah menyaksikannya merekomendasiku untuk menontonnya. Tapi sekarang hal tersebut terasa sudah tidak penting lagi.
Oh, ada apa denganku. Aku merasa semakin bukan diriku lagi.
Aku menarik napas.
"Kenapa?" tanyanya.
"Ah,itu..Aneh saja..Kenapa teman-teman belum juga muncul."
Aku berbohong. Bukan hanya tentang apa yang ada dipikiranku tapi juga tentang harapan bahwa jika teman-teman tidak muncul aku memiliki peluang berdua saja dengannya. Dan sebenarnya aku juga sudah berbohong sejak awal dengan tidak mengatakan alasan ketidakhadiran Tina dan Kaka.
Ini tidak benar. Tapi jika aku mengatakan yang sebenarnya aku takut ia membatalkan acara nonton ini dan kemudian pulang meninggalkanku sendiri. Aku segera bangkit berdiri. Ia memandangku dengan penuh tanya. Aku menunjuk ke jam tangan,memberitahu bahwa sudah waktunya. Lalu aku bergegas ke arah loket. Lebih cepat membeli tiket lebih besar peluang buatku nonton bersamanya. Ia tidak akan membatalkannya walaupun tiba-tiba Tina ataupun Kaka mengabarinya ketidakhadiran mereka. Tapi belum sempat aku mendekati loket tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku.
"Ini." Ia mengeluarkan beberapa tiket dari saku jasnya dan meletakkannya di tanganku.
"Hah.."
"Aku sengaja membelinya duluan. Takut kehabisan."
Aku menghitung jumlah tiket itu. Ternyata ada lima. Pas buat kami berlima. Dia, Tina, Pip, Kaka dan.. Aku.
Oh, apakah dia sungguh memikirkan untuk membelikanku tiket juga? Tidak perlu diragukan karena cuma kami berlima yang membuat janji. Tidak ada yang lain yang diikutsertakan. Jadi tentu saja ia memang sengaja membelikanku tiket juga.
Dadaku terasa hangat. Berarti sekarang ia sudah bisa 'menerima'ku.
Bagaimana tidak, selama satu setengah tahun,secara terpaksa - hanya pihak Tina yang 'memungut'ku - bergabung dengan kelompok mereka di kampus, baru kali ini ia menganggapku ada. Sebelumnya ia sangat bersikap dingin, acuh dan mendiskriminasiku.
Aku mengeluarkan dompet dari dalam tas hendak mengembalikan uang tiket yang sudah dibelinya tapi ia sudah berlalu pergi. Ia berjalan menuju food court. Aku menyusulnya.
"Ini." aku menyodorkan uang tiketku.
"Simpan saja. Hari ini aku yang traktir."
Tanpa sadar senyum lebar mengembang di wajahku. Dan ia tiba-tiba terlihat geli.
"Benar-benar muka gratis."
"Apa?"
"Begitu kubilang ditraktir kamu langsung tersenyum lebar. Bukannya itu 'Muka gratisan'?"
"Kalau ada yang gratis,kenapa harus ditolak?"
Kami tertawa bersamaan. Dan aku merasa sangat bahagia. Sesungguhnya aku pernah merindukan hal ini. Ia bisa tertawa lepas di depanku dan aku tidak perlu menikmati keceriaannya secara sembunyi-sembunyi.
Kemudian terdengar suara informasi.
" Sebaiknya kita masuk saja. Kalau mereka tiba,aku akan keluar menjemput."
Ia membeli popcorn dan dua minuman coke dingin. Ia memberiku segelas.
Kemudian kami berjalan beriringan ke pintu teater tiga. Dan setiba di dalam bioskop kami mengambil tempat di tengah. Ia membiarkanku memilih tempat yang kusuka. Aku memilih kursi pertama. Kemudian ia duduk di sebelahku.
Apakah Tuhan sengaja membiarkan semua ini terjadi? Apakah aku harus menganggap ini sebagai tanda baik atau berhati-hati terhadap harapan yang terus berkembang karena semua keindahan ini? Tidak boleh. Aku berusaha menepis pikiran-pikiran bodoh itu.
Tak lama kemudian film mulai diputar. Sementara ia terlihat lebih serius dengan handphone di tangannya,a
ku berusaha memusatkan perhatian. Aku cukup senang dengan cerita filmnya karena mampu membuatku melupakan ia sejenak. Tapi tiba-tiba ia berbisik di telingaku.
"Sepertinya mereka tidak akan datang."
Aku memalingkan wajah kearahnya. Astaga. Wajahnya hanya beberapa centi dariku.
"Kamu sudah menghubungi mereka?"
Aku menatapnya. Tiba-tiba saja aku ingin merekam wajahnya secara detail dalam ingatanku. Keberanian bodoh ini muncul mungkin karena keremangan cahaya dari film. Dan ia terlihat semakin tampan.
"Tidak satu pun membalas sms-ku. Ga sopan banget kan?" katanya sambil tertawa kecil. Oh,indahnya pemandangan di depanku ini. Aku seperti melihat lukisan malaikat Michael Angelo. Sempurna.
Dan suasana ini tiba-tiba membuatku merasa kami sudah lama dekat. Seperti tidak pernah ada kebekuan dalam sikapnya selama ini. Seperti kami adalah dua orang yang begitu saling memahami. Oh,pikiran bodoh yang semakin mendorongku ke pengharapan yang menghancurkan.
....... to be continued.......