
Beberapa hari belakangan ini selalu ada hujan di sore hari, padahal musim penghujan belum juga dimulai. Suasana sore dan hujan selalu memberi dampak sedih pada perasaan.
Aku duduk di pinggiran tempat tidur sambil memandang ke jendela. Air hujan yang mengalir di kaca jendela mengaburkan pemandangan di luar. Hanya samar-samar aku melihat bayangan pucuk pohon pinus di halaman depan rumah.
Setiap bangun tidur di sore hari aku selalu merasa kosong. Dan juga sedih. Aku merasa sedih karena harus mengakhiri hari itu. Bagiku sore membuat hari menjadi lebih singkat. Begitu malam datang berarti esoknya akan datang hari baru lagi. Aku merasa tidak siap berpisah dengan hari itu. Mungkin karena aku merasa setiap hari yang kujalani itu indah.
Hari ini masih seperti dua hari yang lalu terasa berat bagiku setelah dicuekin habis oleh makhluk berhati dingin itu. Hari ini secara tidak sengaja aku bertemu dengannya dan teman-teman di depan lobi kampus. Dan seperti biasa ia tidak melihat ke arahku.Tapi sorot matanya lebih dingin dari biasa. Dan wajah sempurnanya juga terlihat lebih kaku. Aku ingin menyapanya kali ini tapi kata-kataku hanya terucap di pikiranku. Aku merasa lebih gugup dari sebelumnya. Tak lama aku bergabung ia kemudian berpamitan pada yang lain tanpa menghiraukanku. Oh, Tuhan. Sebenci itukah ia padaku?
Seharusnya aku tidak memiliki harapan apapun dari sikap dinginnya. Aku menyesal. Dan merasa bersalah.
Dua hari yang lalu, aku dan teman-teman berencana pergi menonton film " Eagle Eye". Aku merasa senang sekali karena ia bersedia ikut. Jarang sekali ia mau pergi bersama-sama bila aku diikutsertakan. Pagi hari aku sudah bangun dan merawat diri. Dari luluran, maskeran sampai creambath ke salon segala.
Jam empat sore aku sudah siap. Tapi ketika hendak berangkat, hujan deras turun seketika. Aku sempat kalut dan kesal pada hujan. Namun aku tidak menyerah begitu saja. Bermodal payung lipat aku menembus deras hujan. Aku berjalan dengan hati-hati di sepanjang jalan gang kecil yang sudah dipenuhi air semata kaki. Sepatu putihku basah, begitu juga ujung celana jeans. Bahkan sebagian blus yang kupakai juga basah karena terpaan angin bercampur hujan.
Setelah berada di jung gang aku mencegat bajaj. Tanpa merudingkan tarif aku langsung melompat masuk.
"Kemana,Neng?"
"Ke mall Puri Indah ya,Bang."sahutku sambil melipat payung.
Di dalam perjalanan aku sibuk mengeringkan baju dan jeansku dengan sapu tangan handuk. Aku juga mencopot sepatuku dan mendirikannya agar cepat kering bila diangin-anginkan.
Jarak dari tempat tinggalku ke mall sekitar dua puluh menit. Aku merasa memiliki cukup waktu untuk membenahi diri. Apalagi abang bajaj juga tidak mengebut. Aku masih punya waktu satu jam sebelum waktu janjiannya.
Ini pertama kalinya aku bisa nonton bersamanya. Lama sekali aku merindukan hal ini. Walaupun ini bukan janjian berdua tapi bisa pergi nonton bersama dengannya membuatku bahagia. Bahkan aku merasa seperti kencan terselubung untuk kami berdua. Kencan terselubung? Aku tertawa sendiri. Dasar pikiran bodoh. Seenaknya membuat kesimpulan.
Aku memandang keluar jendela. Hujan masih lebat. Bagaimana bila ia batal datang karena hujan. Tiba-tiba pikiran itu muncul. Tidak mungkin! Tidak mungkin ia tidak bisa datang hanya karena hujan. Ia pasti bisa datang dengan mobil pribadinya. Tapi perasaan cemas menggerogotiku. Oh,please..
Setelah membayar ongkos, aku bergegas masuk ke dalam mall. Aku menyempatkan diri ke toilet sebentar. Pakaian yang lembab dan suhu dingin di dalam mall membuatku ingin segera ke toilet.
Saat keluar dari toilet aku menangkap bayanganku di cermin wastafel. Astaga! Aku telihat berantakan. Rambutku acak-acakan, baju terlihat lembab dan sebagian bedak di wajahku memudar. Apakah saat ini adalah ide yang baik untuk bertemu dengannya? Apa sebaiknya aku pulang saja?
Tiba-tiba handphoneku berdering. Sebuah SMS masuk.
Kalian dimana? Aku sudah di 21. Sendirian.
Itu SMS darinya. Rupanya dia sudah tiba lebih awal dari semua. Dan bila aku datang berarti hanya akan ada dia dan aku. Wah, gawat! Aku pasti akan mati gaya bila berada di dekatnya berdua-dua saja.
Keluar dari toilet, aku memutuskan untuk tidak langsung menemuinya. Sebaiknya aku datang belakangan saja. Jika teman-teman ada di sana aku tidak akan kesulitan bersikap. Setidaknya aku tidak perlu memulai percakapan dengannya atau kami tidak hanya terdiam membisu. Ide yang cukup bagus.
Aku tersenyum dalam sambil melangkah menuju Pizza Hut. Sebaiknya aku menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi.
Setelah memesan Deluxe Prawn Bruchett dan secangkir kopi panas non cafein, aku mengirimkan SMS ke teman-teman menanyakan keberadaan mereka. Dan tidak lama kemudian tiga SMS masuk berebutan. Masing-masing dari Tina, Pip dan Kaka.
Tina mengabari kalau ia belum mendapatkan mobil karena masih dipakai ibunya. Sementara Pip sedang dalam perjalanan tapi terjebak macet karena hujan lebat. Dan Kaka menyatakan tidak bisa datang karena pacarnya marah tidak diajak serta. Weleeh...
Dan itu pertanda buruk. Sepertinya aku tidak bisa menghindar. Tapi... sejujurnya aku memang berharap mereka tidak datang jadi ada kemungkinan aku bisa nonton berdua dengannya. Dasar pikiran bodoh... Tapi diam-diam perasaan senang membanjiri hatiku. Dasar bodoh.
Aku melirik jam tangan. 04.40 p.m. Aku masih punya waktu dua puluh menit sebelum menemuinya. Dan berharap Pip sudah akan ada di sana saat aku datang.
Waktu berlalu begitu cepat, walau aku berusaha melahap Deluxe Prawn Bruchett dengan perlahan. Kuputuskan untuk tetap di sana sampai semua makananku habis. Siapa tau Pip sekarang sudah berada di sana dan mereka sedang memesan ticket jadi begitu aku datang, kami sudah siap menonton saja.
Waktu tambahan lima belas menit yang kuberikan untuk diriku sudah berlalu juga. Makanan pun sudah ludes tak tersisa. Tapi aku masih belum beranjak dari tempatku. Aku ingin memberi diriku waktu tambahan lagi. Mungkin sepuluh menit lagi.
Handphone kembali berdering. Sebuah SMS masuk. Dari dia lagi.
Kalian dimana? Filmnya hampir mulai.
Rupanya Pip belum datang juga. Mungkin aku sebaiknya ke sana. Membiarkannya terus menunggu membuatku semakin pengecut.
Antara rasa bingung dan rasa bersalah aku bergegas ke bioskop twenty-one di lantai atas.
Di antara keramaian orang di dalam area tunggu bioskop aku bisa menemukan sosoknya. Ia berdiri bersandar di dekat papan reklame. Hari ini ia terlihat berbeda. Semakin sempurna. Ia memakai t-shirt putih bergambar Albert Einstein di balut jas bludru hitam danjeans denim nakame minami raw berwarna biru tua yang dihiasi sabuk berantai perak. Bahkan model rambutnya juga berbeda karena diberi jelly dan disisir ke atas. Bergaya mohawk punk.
Astaga, hari ini ia benar-benar seperti model yang biasa kulihat di Fashion TV.
Terlalu bagus hingga setiap mata selalu melirik dan memperhatikannya. Dan itu membuatku berat mendekatinya. Kepercayaan diri yang kubangun rontok seperti kaca pecah.
Aku mendekatinya dengan ragu-ragu. Tapi tak sanggup, aku berhenti agak menjauh darinya. Ia sedang mengutak-atik handphonenya. Sepertinya ia tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Aku kemudian terpaksa maju beberapa langkah hingga berhenti tepat di depannya. Perlahan ia mengangkat wajahnya karena merasa keberadaan seseorang.
Ia memandangku sekilas. Tapi itu cukup membuatku terhipnotis dan menjadi beku di tempatku. Bahkan senyum yang kupaksakan tertahan di sudut.
"Mana yang lain?" suaranya terdengar marah dan acuh.
"Hmm...Mereka tidak..."
Belum sempat kuselesaikan kalimatku ia sudah menyelonong pergi. Aku mengikutinya. Rupanya ia ingin duduk di kursi yang ditata melingkari tiang penyangga.
Ia duduk bersandar dengan santai sambil berpangku kaki. Sementara aku berdiri kaku di depannya. Ragu-ragu untuk bicara. Melihatku terbengong ia bergeser dan memberiku tempat. Aku menjadi semakin kikuk dan bingung memutuskan. Apakah aku akan kuat duduk di sebelahnya? Bagaimana kalau aku pingsan nanti? Aduh... apalagi tempat yang tersedia tidak cukup luas karena banyak pengunjung yang sudah menempatinya.
"Buruan..." desaknya. Aku langsung menyadari orang-orang di sekitar punya peluang mengambil alih tempat tersebut. Dan tanpa menimbang lagi segera aku mendaratkan pantatku di sofa empuk itu. Tapi setelah mendudukinya, dugaanku ternyata benar tempatku itu benar-benar tidak cukup lega. Bahkan kini aku merasa berhimpitan dengannya. Dan ia tidak mau mengalah bergeser maju malah tetap santai bersandar dan kembali sibuk dengan handphonenya.Sementara aku sendiri juga tidak menentu. Pikiranku mengingatkanku bahwa aku tidak tau malu jika tidak bergeser tapi perasaanku mengatakan bahwa aku ingin berada dekat dengannya. Dan begitu kuat keinginan ini membuat tubuhku tak mampu bergeming.
Aku merasa aku bukan diriku lagi. Seseorang yang lain di dalamku." Mana yang lain? " tanyanya dengan sedikit berbisik.
Aku merasa aku bukan diriku lagi. Seseorang yang lain di dalamku." Mana yang lain? " tanyanya dengan sedikit berbisik.
Aku melirik ke arahnya. Begitu dekatnya kami sampai-sampai aku bisa mencium bau parfumnya yang lembut, manis dan segar. Bahkan aku juga bisa melihat barisan alisnya yang tebal, hidungnya yang bangir, pipih tirisnya, bibir tipis dan rahang kokohnya. Ia jauh lebih memesona bila dilihat dari samping karena bentuk hidung dan bulu matanya yang panjang terlihat sempurna.
Ia balas melirikku. Mata kami beradu. Astaga. Cepat-cepat aku memalingkan wajah.
"Mereka dalam perjalanan." kataku mengalir begitu saja. Jantungku yang berdebar lebih cepat membuatku tak mampu berpikir lagi.
Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau bersungut atas semua ini. Sebab keadaan ini semakin membuatku menyadari bahwa aku semakin tergila-gila padanya. Dan perasaan ini juga membuatku semakin merana. Mungkin aku ibarat pungguk merindukan bulan. Dia terlalu sempurna untuk orang yang sangat biasa seperti aku ini.
"Apa sebaiknya kita menonton film yang lain saja?" ujarnya sambil tetap melirik ke arahku. Aku memutuskan untuk tidak membalas lirikannya. Cukup yang pertama tadi. Bahkan cara duduk kami yang berhimpitan sekarang ini menambah beban pada diriku. Serasa seluruh tubuhku kaku. Dan jantung sialan ini tetap terus berdebar cepat. Bahkan suaranya sangat jelas terdengar.
"Kenapa?" aku mencoba mengalahkan ketidakberdayaan ini.
"Menurutku filmnya tidak terlalu menarik."
"Oh." Aku tidak mampu menemukan kata-kata.
Sebenarnya aku ingin sekali menonton film ini. Sebab beberapa teman yang sudah menyaksikannya merekomendasiku untuk menontonnya. Tapi sekarang hal tersebut terasa sudah tidak penting lagi.
Oh, ada apa denganku. Aku merasa semakin bukan diriku lagi.
Aku menarik napas.
"Kenapa?" tanyanya.
"Ah,itu..Aneh saja..Kenapa teman-teman belum juga muncul."
Aku berbohong. Bukan hanya tentang apa yang ada dipikiranku tapi juga tentang harapan bahwa jika teman-teman tidak muncul aku memiliki peluang berdua saja dengannya. Dan sebenarnya aku juga sudah berbohong sejak awal dengan tidak mengatakan alasan ketidakhadiran Tina dan Kaka.
Ini tidak benar. Tapi jika aku mengatakan yang sebenarnya aku takut ia membatalkan acara nonton ini dan kemudian pulang meninggalkanku sendiri. Aku segera bangkit berdiri. Ia memandangku dengan penuh tanya. Aku menunjuk ke jam tangan,memberitahu bahwa sudah waktunya. Lalu aku bergegas ke arah loket. Lebih cepat membeli tiket lebih besar peluang buatku nonton bersamanya. Ia tidak akan membatalkannya walaupun tiba-tiba Tina ataupun Kaka mengabarinya ketidakhadiran mereka. Tapi belum sempat aku mendekati loket tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku.
"Ini." Ia mengeluarkan beberapa tiket dari saku jasnya dan meletakkannya di tanganku.
"Hah.."
"Aku sengaja membelinya duluan. Takut kehabisan."
Aku menghitung jumlah tiket itu. Ternyata ada lima. Pas buat kami berlima. Dia, Tina, Pip, Kaka dan.. Aku.
Oh, apakah dia sungguh memikirkan untuk membelikanku tiket juga? Tidak perlu diragukan karena cuma kami berlima yang membuat janji. Tidak ada yang lain yang diikutsertakan. Jadi tentu saja ia memang sengaja membelikanku tiket juga.
Dadaku terasa hangat. Berarti sekarang ia sudah bisa 'menerima'ku.
Bagaimana tidak, selama satu setengah tahun,secara terpaksa - hanya pihak Tina yang 'memungut'ku - bergabung dengan kelompok mereka di kampus, baru kali ini ia menganggapku ada. Sebelumnya ia sangat bersikap dingin, acuh dan mendiskriminasiku.
Aku mengeluarkan dompet dari dalam tas hendak mengembalikan uang tiket yang sudah dibelinya tapi ia sudah berlalu pergi. Ia berjalan menuju food court. Aku menyusulnya.
"Ini." aku menyodorkan uang tiketku.
"Simpan saja. Hari ini aku yang traktir."
Tanpa sadar senyum lebar mengembang di wajahku. Dan ia tiba-tiba terlihat geli.
"Benar-benar muka gratis."
"Apa?"
"Begitu kubilang ditraktir kamu langsung tersenyum lebar. Bukannya itu 'Muka gratisan'?"
"Kalau ada yang gratis,kenapa harus ditolak?"
Kami tertawa bersamaan. Dan aku merasa sangat bahagia. Sesungguhnya aku pernah merindukan hal ini. Ia bisa tertawa lepas di depanku dan aku tidak perlu menikmati keceriaannya secara sembunyi-sembunyi.
Kemudian terdengar suara informasi.
" Sebaiknya kita masuk saja. Kalau mereka tiba,aku akan keluar menjemput."
Ia membeli popcorn dan dua minuman coke dingin. Ia memberiku segelas.
Kemudian kami berjalan beriringan ke pintu teater tiga. Dan setiba di dalam bioskop kami mengambil tempat di tengah. Ia membiarkanku memilih tempat yang kusuka. Aku memilih kursi pertama. Kemudian ia duduk di sebelahku.
Apakah Tuhan sengaja membiarkan semua ini terjadi? Apakah aku harus menganggap ini sebagai tanda baik atau berhati-hati terhadap harapan yang terus berkembang karena semua keindahan ini? Tidak boleh. Aku berusaha menepis pikiran-pikiran bodoh itu.
Tak lama kemudian film mulai diputar. Sementara ia terlihat lebih serius dengan handphone di tangannya,aku berusaha memusatkan perhatian. Aku cukup senang dengan cerita filmnya karena mampu membuatku melupakan ia sejenak. Tapi tiba-tiba ia berbisik di telingaku.
Ia balas melirikku. Mata kami beradu. Astaga. Cepat-cepat aku memalingkan wajah.
"Mereka dalam perjalanan." kataku mengalir begitu saja. Jantungku yang berdebar lebih cepat membuatku tak mampu berpikir lagi.
Aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau bersungut atas semua ini. Sebab keadaan ini semakin membuatku menyadari bahwa aku semakin tergila-gila padanya. Dan perasaan ini juga membuatku semakin merana. Mungkin aku ibarat pungguk merindukan bulan. Dia terlalu sempurna untuk orang yang sangat biasa seperti aku ini.
"Apa sebaiknya kita menonton film yang lain saja?" ujarnya sambil tetap melirik ke arahku. Aku memutuskan untuk tidak membalas lirikannya. Cukup yang pertama tadi. Bahkan cara duduk kami yang berhimpitan sekarang ini menambah beban pada diriku. Serasa seluruh tubuhku kaku. Dan jantung sialan ini tetap terus berdebar cepat. Bahkan suaranya sangat jelas terdengar.
"Kenapa?" aku mencoba mengalahkan ketidakberdayaan ini.
"Menurutku filmnya tidak terlalu menarik."
"Oh." Aku tidak mampu menemukan kata-kata.
Sebenarnya aku ingin sekali menonton film ini. Sebab beberapa teman yang sudah menyaksikannya merekomendasiku untuk menontonnya. Tapi sekarang hal tersebut terasa sudah tidak penting lagi.
Oh, ada apa denganku. Aku merasa semakin bukan diriku lagi.
Aku menarik napas.
"Kenapa?" tanyanya.
"Ah,itu..Aneh saja..Kenapa teman-teman belum juga muncul."
Aku berbohong. Bukan hanya tentang apa yang ada dipikiranku tapi juga tentang harapan bahwa jika teman-teman tidak muncul aku memiliki peluang berdua saja dengannya. Dan sebenarnya aku juga sudah berbohong sejak awal dengan tidak mengatakan alasan ketidakhadiran Tina dan Kaka.
Ini tidak benar. Tapi jika aku mengatakan yang sebenarnya aku takut ia membatalkan acara nonton ini dan kemudian pulang meninggalkanku sendiri. Aku segera bangkit berdiri. Ia memandangku dengan penuh tanya. Aku menunjuk ke jam tangan,memberitahu bahwa sudah waktunya. Lalu aku bergegas ke arah loket. Lebih cepat membeli tiket lebih besar peluang buatku nonton bersamanya. Ia tidak akan membatalkannya walaupun tiba-tiba Tina ataupun Kaka mengabarinya ketidakhadiran mereka. Tapi belum sempat aku mendekati loket tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku.
"Ini." Ia mengeluarkan beberapa tiket dari saku jasnya dan meletakkannya di tanganku.
"Hah.."
"Aku sengaja membelinya duluan. Takut kehabisan."
Aku menghitung jumlah tiket itu. Ternyata ada lima. Pas buat kami berlima. Dia, Tina, Pip, Kaka dan.. Aku.
Oh, apakah dia sungguh memikirkan untuk membelikanku tiket juga? Tidak perlu diragukan karena cuma kami berlima yang membuat janji. Tidak ada yang lain yang diikutsertakan. Jadi tentu saja ia memang sengaja membelikanku tiket juga.
Dadaku terasa hangat. Berarti sekarang ia sudah bisa 'menerima'ku.
Bagaimana tidak, selama satu setengah tahun,secara terpaksa - hanya pihak Tina yang 'memungut'ku - bergabung dengan kelompok mereka di kampus, baru kali ini ia menganggapku ada. Sebelumnya ia sangat bersikap dingin, acuh dan mendiskriminasiku.
Aku mengeluarkan dompet dari dalam tas hendak mengembalikan uang tiket yang sudah dibelinya tapi ia sudah berlalu pergi. Ia berjalan menuju food court. Aku menyusulnya.
"Ini." aku menyodorkan uang tiketku.
"Simpan saja. Hari ini aku yang traktir."
Tanpa sadar senyum lebar mengembang di wajahku. Dan ia tiba-tiba terlihat geli.
"Benar-benar muka gratis."
"Apa?"
"Begitu kubilang ditraktir kamu langsung tersenyum lebar. Bukannya itu 'Muka gratisan'?"
"Kalau ada yang gratis,kenapa harus ditolak?"
Kami tertawa bersamaan. Dan aku merasa sangat bahagia. Sesungguhnya aku pernah merindukan hal ini. Ia bisa tertawa lepas di depanku dan aku tidak perlu menikmati keceriaannya secara sembunyi-sembunyi.
Kemudian terdengar suara informasi.
" Sebaiknya kita masuk saja. Kalau mereka tiba,aku akan keluar menjemput."
Ia membeli popcorn dan dua minuman coke dingin. Ia memberiku segelas.
Kemudian kami berjalan beriringan ke pintu teater tiga. Dan setiba di dalam bioskop kami mengambil tempat di tengah. Ia membiarkanku memilih tempat yang kusuka. Aku memilih kursi pertama. Kemudian ia duduk di sebelahku.
Apakah Tuhan sengaja membiarkan semua ini terjadi? Apakah aku harus menganggap ini sebagai tanda baik atau berhati-hati terhadap harapan yang terus berkembang karena semua keindahan ini? Tidak boleh. Aku berusaha menepis pikiran-pikiran bodoh itu.
Tak lama kemudian film mulai diputar. Sementara ia terlihat lebih serius dengan handphone di tangannya,aku berusaha memusatkan perhatian. Aku cukup senang dengan cerita filmnya karena mampu membuatku melupakan ia sejenak. Tapi tiba-tiba ia berbisik di telingaku.
"Sepertinya mereka tidak akan datang."
Aku memalingkan wajah kearahnya. Astaga. Wajahnya hanya beberapa centi dariku.
"Kamu sudah menghubungi mereka?"
Aku menatapnya. Tiba-tiba saja aku ingin merekam wajahnya secara detail dalam ingatanku. Keberanian bodoh ini muncul mungkin karena keremangan cahaya dari film. Dan ia terlihat semakin tampan.
"Tidak satu pun membalas sms-ku. Ga sopan banget kan?" katanya sambil tertawa kecil. Oh,indahnya pemandangan di depanku ini. Aku seperti melihat lukisan malaikat Michael Angelo. Sempurna.
Dan suasana ini tiba-tiba membuatku merasa kami sudah lama dekat. Seperti tidak pernah ada kebekuan dalam sikapnya selama ini. Seperti kami adalah dua orang yang begitu saling memahami. Oh,pikiran bodoh yang semakin mendorongku ke pengharapan yang menghancurkan.
....... to be continued.......
Aku memalingkan wajah kearahnya. Astaga. Wajahnya hanya beberapa centi dariku.
"Kamu sudah menghubungi mereka?"
Aku menatapnya. Tiba-tiba saja aku ingin merekam wajahnya secara detail dalam ingatanku. Keberanian bodoh ini muncul mungkin karena keremangan cahaya dari film. Dan ia terlihat semakin tampan.
"Tidak satu pun membalas sms-ku. Ga sopan banget kan?" katanya sambil tertawa kecil. Oh,indahnya pemandangan di depanku ini. Aku seperti melihat lukisan malaikat Michael Angelo. Sempurna.
Dan suasana ini tiba-tiba membuatku merasa kami sudah lama dekat. Seperti tidak pernah ada kebekuan dalam sikapnya selama ini. Seperti kami adalah dua orang yang begitu saling memahami. Oh,pikiran bodoh yang semakin mendorongku ke pengharapan yang menghancurkan.
....... to be continued.......
No comments:
Post a Comment