Saturday, 9 April 2011

Honey and Poison (1)

Pagi datang dengan gembira. Ditandai dengan langit cerah. Waktu sudah menunjukkan jam 06.00. Setelah memberi salam kedua orang tuanya, Honey berjalan keluar rumah dengan langkah gagah. Remaja berusia tujuh belas tahun itu menenteng tas punggung biru berbentuk boneka panda.
"Honey!" panggil Ina. Tetangga sekaligus teman sekolahnya. Gadis berwajah imut-imut dan manis itu mengejar langkah Honey.
"Tumben hari ini lu berangkat pagi." katanya.
"Maksud lu?" tanya Honey sambil melotot.
"Lu kan selalu kesiangan." ledek Ina acuh.
"Idih! Bisanya cuma melihat kejelekkan orang." protes Honey sambil mencibir. Tapi kemudian ia tertawa.

Lalu sepanjang perjalanan dengan angkot ke sekolah keduanya asik berbincang dari masalah sekolah sampai pada masalah gebetan. Tapi dibanding Honey, Ina lebih jelas gebetannya.
"Iya. Tau yang dah mo jadian?" keluh Honey.
"Makanya lu buruan cari dong. Anak SD aja dah pada koleksi. Masa lu kalah ama anak SD." ujar Ina sambil tertawa. Wajah Honey seperti tersengat lebah. Meringis. Sebel bercampur depresi.
"Eh - kalo gua mentingin sekolah. Bukan kayak lu pacaran melulu. Tuh rapor dah kayak kebakaran hutan." sanggah Honey. Giliran Ina yang mencibirnya. Tapi keduanya kembali tertawa berbarengan.
"Gimana dengan Poison?" tiba-tiba Ina bertanya.
"Poison? Kenapa dengan dia?" Honey balik bertanya.
"Bukannya kalian dekat." sahutnya.
"Eit - kami cuma teman biasa." sanggah Honey.
"Oya? Tapi gua merasa Poison tidak menganggapmu cuma teman biasa." sahutnya.
Honey terperangah. "Maksud lu?"
"Menurut gua, Poison itu suka sama lu." ujarnya Ina dengan wajah serius.
"Jangan ngaco lu! Dia itu cuma menganggap gua teman." tukas Honey. Ia tidak percaya pada ucapan Ina. Selama ini Poison adalah salah satu teman cowo di kelas yang cukup dekat dengannya.
Tapi itu tidak bisa mengubah sikap Ina. Anak itu kembali mencoba meyakinkan Honey. "Perhatikan cara dia memperlakukan lu, Hon." katanya." Terhadap lu, dia sangat perhatian dan peduli. Dia suka memujimu, mencari-cari perhatianmu, salah tingkah di depanmu dan bahkan sering memegang tanganmu."
"Masa sih?" ujar Honey. Ia terlihat bingung. Sedikit percaya tapi sedikit tidak percaya pula.
"Iya. Lu mungkin ga nyadar. Tapi gua pengamat yang sangat baik."
"Gak mungkin." bisik Honey. Seolah-olah ia bicara sendiri.
"Kalo lu ga percaya. Coba aja lu perhatikan sikap dia ke lu hari ini." tandas Ina.
Honey menatapnya dengan tidak percaya tapi anak itu balas menatap dengan penuh keyakinan.
Tiba-tiba perutnya terasa keram. Ada sesuatu yang menekan dirinya. Rasa tidak suka bila ternyata Ina benar. Ini berarti persahabatan Poison tidak tulus. Makhluk jelek itu akan gua pangkas kalau hari ini dia berani dekat-dekat dengan gua. Pikir Honey marah.

Dua puluh menit kemudian mereka tiba di sekolah.
"Eh - lu kok datang pagi sih?" sambut Bento dengan wajah tidak bahagia. Ia berharap kali ini ada kesempatan buat bolos lagi bila Honey terlambat. Karena sebagai ketua kelas ia bertugas membawa kunci kelas. Kalau ia terlambat, tentu saja teman-temannya terpaksa harus menunggu di luar dulu. Kesempatan inilah yang digunakan beberapa temannya untuk bolos pelajaran pertama.
"Lu sumpahin gua dimarahin wali kelas." sahut Honey. Dengan cepat ia membuka pintu kelas.
Saat ia menaruh tas di meja paling depan, Poison berjalan melewatinya. Anak itu memasang senyum paling manis. Lupa dengan kekesalannya, Honey balas tersenyum. Tapi kemudian ia teringat kata-kata Ina. Lalu ia memperhatikan apakah Poison juga tersenyum pada yang lain. Ternyata pada yang lain ia bersikap dingin. Tentu saja ia akan tersenyum pada Honey bukankah mereka teman dekat.
"Cie..cie..Yang saling melempar senyum." bisik Ina.
"Apaan sih? Kurang kerjaan? Tuh sapu lantai. Hari ini kan lu piket." sahut Honey. Ia bergegas keluar. Ia tidak ingin Ina melihatnya tersipu-sipu. Tapi tentu saja mata Ina sudah terlatih untuk mendeteksi setiap gerakannya yang terkecil sekalipun.
"Meong!!" serunya sebelum Honey menghilang di balik pintu.

Sementara di luar, Honey duduk-duduk dibawa pendopo di depan kelas. Masih ada setengah jam lebih sebelum masuk. Tak lama kemudian Poison keluar dari kelas. Mata mereka beradu. Jantung Honey serasa akan meloncat keluar.
"Tumben kamu tidak terlambat." sapa Poison sambil duduk di sebelahnya. Perutnya tiba-tiba merasa keram. Idih! Tiap hari ketemu dengannya, kenapa hari ini gua gugup? Pikir Honey.
"Lu pengen gua telat tiap hari?" ujar Honey setelah bisa menguasai diri.
" Ga juga sih. Tapi hari ini aku pengen bolos." ujarnya. "Kamu mau ikut ga?"
" Gua ga pernah bolos." sahut Honey.
" Kalo gitu kita bolos hari ini." katanya sambil meraih tangan Honey.
" Kamu mau apa sih?" kata Honey sambil menarik tangannya. Tapi tidak berhasil.
" Ayo." Poison menariknya dengan kuat. Karena kalah kekuatan Honey menurut saja. Ia mengikuti langkah Poison yang panjang dengan tergopoh-gopoh.
" Hei, kalian mau kemana?" Ina tiba-tiba keluar kelas dan mendapati mereka sedang berjalan melewati koridor kelas.
Melihat ekspresi menggoda Ina, Honey langsung menghentak tangan Poison. Sekali hentakkan tangan itu terlepas. " Gua ga mau bolos!" kata Honey kemudian langsung berbalik kembali ke kelas. Poison hanya terpaku. Ia berdiri menatap punggung Honey yang setengah berlari meninggalkannya.

1 comment:

Anonymous said...

"*NUMPANG PROMO, yach...
Telkomsel NET menyediakan semua info tentang INTERNET. Gampang dan Mudah, hanya dengan mengetik REG NET kirim ke 9789(khusus pengguna Telkomsel)... kamu bisa dapatkan tips-tips & kemudahan untuk meng-access atau men-download setiap link atau situs-situs yg ada di INTERNET. Semua langsung dari hp kamu. Tunggu apa lagi... Mari gabung di club Net kami!"